BerandaSportSoccerPatar Tambunan Sarankan Timnas...

Patar Tambunan Sarankan Timnas U-20 Tampil di FIFA ASEAN Cup 2026

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Mantan bek Timnas Indonesia, Patar Tambunan, menyarankan PSSI memberikan kesempatan kepada Timnas Indonesia U-20 untuk tampil pada FIFA ASEAN Cup 2026. Menurutnya, turnamen tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembinaan pemain muda menuju tim nasional senior.

FIFA ASEAN Cup 2026 dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada 25 September hingga 5 Oktober 2026. Turnamen digelar di dua stadion, yakni Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dan Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.

Indonesia tergabung di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh. Sementara Grup B dihuni Vietnam, Thailand, Filipina, dan Pakistan.

“Turnamen level Asia Tenggara seharusnya tidak lagi menjadi prioritas bagi skuad senior Indonesia. Pemain-pemain muda perlu mendapatkan pengalaman bertanding menghadapi lawan yang lebih berpengalaman,” ungkap Patar Tambunan di Lapangan Pancoran Soccer Field , Jakarta Selatan, Minggu (20/9/2026).

“Seharusnya, tim Indonesia yang diterjunkan ke FIFA ASEAN tidak perlu senior. Cukup Indonesia U-20 asuhan Nova Arianto,” ujar Patar dalam perbincangan yang dikutip dari naskah tersebut.

Menurut Patar, Timnas U-20 membutuhkan lebih banyak pengalaman internasional setelah memastikan tiket ke Piala Asia U-20. Pertandingan melawan tim-tim senior dinilai dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pengalaman sekaligus mental bertanding para pemain muda.

“Indonesia U-20 yang sudah lolos ke Piala Asia U-20 butuh jam terbang, butuh pengalaman, dan menambah mental bertanding menghadapi pemain yang lebih senior. Kenapa PSSI tak berani memilih Indonesia U-20?” katanya.

Baca Juga :   Suporter Papua Bakar Semangat SAI Bogor di Kejurnas Sepakbola KU-12 Piala Ketum KONI 2025

Belajar dari Program PSSI Garuda 1

Patar kemudian mengaitkan gagasannya dengan pengalaman yang pernah dijalani generasinya pada era 1980-an. Ia mencontohkan program PSSI Garuda 1 yang dibangun pada masa kepemimpinan Kardono sebagai Ketua Umum PSSI.

Saat itu, para pemain muda yang rata-rata berusia sekitar 19 tahun dipercaya tampil pada Pra-Piala Asia 1984. Tim yang dilatih pelatih asal Brasil, Joao Barbatana, menghadapi sejumlah negara kuat, di antaranya Iran, Suriah, Thailand, Filipina, dan Bangladesh.

“Rata-rata pemain PSSI Garuda 1 berusia 19 tahun. Tapi Kardono meminta kami untuk bertarung di Pra-Piala Asia, bahkan nyaris lolos. Kami berada di urutan ketiga. Yang lolos ke putaran final Iran dan Suriah,” kenang Patar.

Menurut dia, kesempatan menghadapi lawan-lawan dari level Asia membuat para pemain muda mendapatkan pengalaman penting. Mereka kemudian memiliki bekal lebih matang ketika masuk ke tim nasional senior.

PSSI Garuda 1 sendiri diisi sejumlah pemain yang kemudian menjadi bagian penting dari sepak bola Indonesia. Patar Tambunan termasuk di dalamnya bersama Hermansyah, Marzuky Nyak Mad, Azhary Rangkuty, Jaya Hartono, Ricky Yacobi dan sejumlah pemain lainnya.

Pembinaan Berjenjang Kuncinya

Patar juga menyoroti proses seleksi pemain pada masa tersebut. Menurutnya, pembinaan dilakukan secara bertahap, dimulai dari kompetisi junior hingga akhirnya mengerucut menjadi skuad tim nasional.

Baca Juga :   Piala Dunia 2026: Era Generasi Emas Belgia Resmi Berakhir, Kevin De Bruyne dan Lukaku Masih Jadi Andalan

Ia menyebut Piala Soeratin 1982 sebagai salah satu jalur yang digunakan untuk menemukan pemain-pemain muda potensial. Dari kompetisi yang melibatkan pemain dari berbagai daerah, seleksi kemudian mengerucut hingga terbentuk kelompok pemain terbaik.

“Dulu sistem perekrutan bisa masuk nasional dari junior benar-benar sangat ketat. Saya dulu memperkuat PSMS junior bersama Marzuky Nyak Mad, Azhary Rangkuty, Jaya Hartono dan Donny Latupeirisa,” ujarnya.

Patar mengenang bagaimana pengalamannya bersama PSMS Medan junior akhirnya membuka jalan menuju tim nasional. Dari generasi tersebut, sejumlah pemain kemudian menjadi bagian dari skuad Indonesia yang meraih prestasi di tingkat Asia Tenggara.

“Saya beruntung, bersama teman-teman sesama PSMS Medan junior bisa terpilih masuk skuad Indonesia senior dan juara. Dari 11 pemain skuad inti Indonesia ke SEA Games, ada tujuh pemain asal Medan,” katanya.

Patar sendiri kemudian menjadi bagian dari tim Indonesia yang mencapai semifinal Asian Games 1986 di Seoul. Setahun berselang, ia ikut membantu Indonesia meraih medali emas SEA Games 1987 bersama pelatih Bertje Matulapelwa.

Tim Senior Fokus ke Level Asia

Dengan pengalaman tersebut, Patar berpandangan bahwa kompetisi regional sebaiknya dimanfaatkan untuk mengembangkan pemain muda. Sementara skuad senior diarahkan untuk menghadapi persaingan di level Asia.

Baca Juga :   Manchester United Ajukan Tawaran untuk Geovany Quenda, Ini Harga yang Diminta Sporting CP

Ia menilai pemain senior yang telah memiliki pengalaman internasional dan sejumlah pemain naturalisasi seharusnya mendapatkan tantangan yang lebih tinggi.

“Mereka seharusnya tidak lagi menghadapi turnamen-turnamen yang gengsinya di level Asia Tenggara. Materi pemain asuhan John Herdman harus diterjunkan ke level Asia,” kata Patar.

Patar menilai keberhasilan membangun tim nasional tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian dalam satu turnamen. Menurutnya, pembinaan membutuhkan proses panjang dan berjenjang dari level klub, junior, hingga tim nasional senior.

Ia berharap PSSI dapat memberikan ruang lebih besar kepada mantan pemain nasional untuk ikut menyumbangkan gagasan dalam pengembangan sepak bola Indonesia, khususnya pada sektor akar rumput dan pembinaan pemain muda.

“Kalau sejak awal pengurus PSSI berpikir jangka panjang dalam membangun skuad tim nasional, seharusnya Indonesia U-20 asuhan Nova Arianto diberi kepercayaan tampil menghadapi tim-tim senior dari negara lain, seperti zaman saya,” ujar Patar.

Gagasan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu persoalan utama yang disoroti Patar: bagaimana Indonesia membangun regenerasi agar prestasi tim nasional senior tidak hanya bergantung pada hasil instan, tetapi ditopang oleh pemain-pemain lokal yang ditempa melalui kompetisi dan pengalaman internasional sejak usia muda.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Padukan Tradisi Budaya dan Gaya Hidup Sehat

TERMINALNEWS.ID, YOGYAKARTA – Kementerian Pariwisata mendukung penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival...

Erling Haaland Jadi Pemain Bergaji Tertinggi di Liga Inggris, Kantongi Rp10,8 Miliar per Pekan

TERMINALNEWS.ID, LONDON – Persaingan klub-klub Liga Inggris atau Premier League tidak...

AC Milan Incar Leny Yoro, Ruben Amorim Ingin Reuni dengan Mantan Bek Manchester United

TERMINALNEWS.ID, MILAN – Bek muda Manchester United, Leny Yoro, menjadi incaran...

NBA Tetap Siapkan Liga Eropa pada 2027, Tawaran Rp9,6 Triliun Ditolak EuroLeague

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – National Basketball Association (NBA) semakin serius merealisasikan rencana...

- A word from our sponsors -