OLEH: Tommy R. Arief
TERAS Jakarta bukan GBK. Tapi Senin kemarin kita semua nonton gol bunuh diri.
Bukan dari pemain, tapi dari ruang ganti.
Saat ekonomi masih pincang dan rakyat lagi ribut soal harga, Presiden Prabowo justru mencopot menterinya yang paling disukai publik: Purbaya Yudhi Sadewa.
Pertanyaannya cuma satu: ini pergantian pemain… atau bunuh diri politik?
Isi Politik itu kadang mirip sepak bola. Skor 1-0. Waktu tinggal 10 menit. Tiba-tiba kiper sendiri nendang bola masuk ke gawang.
Itu yang dirasakan banyak orang saat mendengar kabar Purbaya “disepak” dari kursi Menteri Keuangan. Penggantinya: Suahasil Nazara.
Secara prosedur ini namanya penyegaran kabinet. Secara rasa di publik, ini aneh.
Kenapa aneh? Lihat datanya dulu:
1. Angka Purbaya tidak jelek. Defisit APBN Juli-Agustus cuma 0,9% PDB. Outlook akhir tahun 2,85%. Penerimaan pajak naik 23,7%. Rasio utang mentok di 40%. Secara buku, dia tidak kebobolan.
2. Popularitas Purbaya sedang tinggi. Survei mencatat kepuasan ke kinerjanya 84,1%. Di bursa Capres 2029 dia nomor 2. Di bursa Cawapres dia nomor 1. Gaya “Purbaya Effect”-nya yang blak-blakan justru jadi obat kangen publik terhadap birokrasi.
3. Tapi grafik istana sedang turun. Dari berbagai lembaga survei, kepuasan ke Presiden Prabowo anjlok dari 81% di akhir 2025 ke 37%-55% di Agustus 2026. Biang keroknya klasik: harga, kerjaan, daya beli.
Nah, di titik inilah publik mulai bertanya nakal. Kalau bukan karena angka ekonomi, lalu karena angka apa?
Muncul bisik-bisik yang lebih gurih untuk digoreng: Setoran Rp120 Triliun Danantara ke APBN, Dana MBG yang tidak boleh dipotong, Bea Cukai yang jangan diobok-obok.
Belum tentu benar. Belum tentu salah. Tapi kalau sudah menyangkut uang triliunan, rakyat mendadak berubah jadi auditor. Kalkulator keluar. Alis naik.
Taruhan Prabowo sekarang jelas:
Kalau setelah ini APBN makin sehat, harga turun, program jalan, maka sejarah akan menulis: “Keputusan berani dan tepat.”
Tapi kalau harga makin menggila, kerja makin sulit, sementara isu Danantara, MBG, dan Bea Cukai terus berisik, maka 14 September 2026 akan dikenang sebagai hari terjadinya gol bunuh diri paling mahal.
Bukan di lapangan. Tapi di Istana
Kita hanya bisa menonton. Sambil seruput Koptagul. Sambil bertanya dalam hati: di tengah susahnya warga Kalimantan bernafas, elite masih sibuk main bola.
*Tommy R. Arief, Kader Demokrat, Ketua Umum Orsap Barisan Setia Demokrat


