TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Setiap 9 September, insan olahraga Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Momen tersebut biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk pemberian penghargaan kepada atlet dan pembina olahraga yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Namun, di balik prestasi para atlet, ada sosok-sosok yang turut berperan menjaga kondisi fisik mereka selama menjalani pertandingan. Salah satunya adalah terapis atau tenaga pemijat olahraga yang mendampingi atlet agar tetap bugar sebelum maupun setelah bertanding.

Salah satu terapis yang telah lama berkecimpung di dunia olahraga adalah Aan Abdurachman. Ia mulai menjalani profesinya sebagai terapis atlet sejak 1997, ketika Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah sebuah ajang olahraga internasional.
Selama puluhan tahun menggeluti profesinya, Aan mengaku telah menangani atlet dari berbagai cabang olahraga, mulai dari bulu tangkis hingga kickboxing.

“Berbagai atlet dari berbagai cabang olahraga sudah saya tangani,” kenang Aan saat ditemui di Kantin Gelora Bung Karno.
Ayah empat anak tersebut mengaku memiliki kebanggaan tersendiri ketika melihat atlet yang pernah ditanganinya mampu mencapai prestasi tertinggi di ajang internasional, seperti SEA Games dan Asian Games.
“Kebetulan cabang olahraga yang melibatkan saya sebagai terapis atlet hanya bertanding di SEA Games dan Asian Games,” tutur Aan, yang kini telah memiliki enam cucu.

Menurut Aan, perannya sebagai terapis bukan sekadar memberikan pijat kepada atlet. Menjaga kebugaran dan membantu pemulihan fisik atlet menjadi bagian penting agar mereka dapat kembali tampil maksimal di arena pertandingan.
Ia pun merasa bangga ketika melihat atlet yang pernah ditanganinya berhasil meraih prestasi dan kemudian mendapatkan penghargaan dari pemerintah dalam rangkaian peringatan Haornas setiap 9 September.

Namun, di balik kebanggaan tersebut, Aan menyimpan sebuah pertanyaan yang selama ini menggelitik pikirannya. Ia mempertanyakan mengapa penghargaan Haornas umumnya diberikan kepada atlet dan pembina olahraga, sementara para terapis yang turut mendampingi perjuangan atlet belum banyak mendapat perhatian.
“Mengapa tidak ada penghargaan kepada para terapis atau tukang pijat yang selalu mendampingi atlet dalam bertanding di arena SEA Games dan Asian Games?” selorohnya.

Pertanyaan Aan tersebut menjadi catatan tersendiri dalam setiap peringatan Haornas. Sebab, prestasi seorang atlet tidak selalu lahir dari perjuangan individu. Di belakangnya terdapat tim yang bekerja menjaga kondisi fisik, mental, strategi, hingga kebugaran atlet.
Para terapis merupakan salah satu bagian dari tim tersebut. Mereka mungkin tidak tampil di podium dan tidak membawa pulang medali, tetapi peran mereka dalam membantu atlet menjaga kebugaran dan memulihkan kondisi tubuh setelah bertanding tidak dapat dipandang sebelah mata.

Karena itu, Haornas bukan hanya momentum untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang berdiri di podium, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengingat seluruh pihak yang bekerja di balik layar demi prestasi olahraga Indonesia.
Beberapa atlet yang pernah merasakan terapisnya Aan Abdurachman sebut saja: Umar Sarip (Karate), Krisnabayu (Judo), Yon Mardiono (Tenis Meja), Sinta Berliana (Taekwondo), Candra Wijaya, Rexy Mainaky, Ricky Subagja (Bulutangkis) dan Wynne Prakusya (Tenis).
Kini Aan Abdurachman menjadi terapis atlet Kick Boxing.

