OLEH: NABIL M. SALIM
MALUT UNITED lahir dari mimpi David Glen Oei, pengusaha tambang asal Maluku yang membesarkannya di Ternate.
Tapi saat naik ke Liga 1, stadion tak siap dan biaya mencekik. Kini klub itu resmi pindah dan berganti nama jadi Jawa Tengah United. Maluku Utara kehilangan wakil. Yang tersisa hanya Persiter, dibangunkan dari tidur panjang untuk berjuang di Liga 4.
Dulu kita punya harapan. Namanya Malut United.
Di balik klub itu ada David Glen Oei, pengusaha asal Ambon yang juga Manajer PT Mineral Trobos Group di Pulau Gebe, Maluku Utara. Karena “gila bola”, ia berani mengangkat nama Malut ke panggung nasional.
Stadion Gelora Kie Raha penuh. Lagu “Laskar Kie Raha” menggema. Logo Mineral Trobos terpampang di dada jersey. Untuk pertama kalinya, Malut punya wakil yang bikin satu provinsi bangga.
Tapi mimpi bertabrakan dengan kenyataan.
Promosi ke Liga 1 2024/2025 membawa dua masalah: Stadion belum lolos verifikasi PSSI dan ongkos logistik ke Ternate terlalu mahal.
Jalan keluarnya satu: pindah homebase ke Jawa Tengah.
Dan sesuai Statuta LIB dan PSSI Pasal 15, klub yang pindah provinsi wajib melepas nama daerah asalnya.
Resmi. “Malut United” dicoret. Berganti jadi Jawa Tengah United.
Ironis.
Di saat ekspor besi, baja, dan nikel Malut tembus Rp243 triliun tahun 2025, DBH yang kembali ke daerah cuma Rp317 miliar atau 0,13%. Uang untuk membangun stadion standar Liga 1 tidak ada. Ekosistem pembinaan belum jalan. Akhirnya klub kebanggaan daerah harus mengorbankan namanya demi bertahan.
Sekarang yang tersisa cuma Persiter Ternate. Klub tua kebanggaan warga yang sempat vakum, kini dipaksa bangun lagi. Main di Liga 4, tanpa sorotan, tanpa sponsor besar, tapi membawa satu hal yang JT United tidak punya lagi: identitas Malut.
Ini tamparan.
Daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia tidak bisa mempertahankan satu klub pun di Liga 1 karena tidak punya rumah yang layak.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengejar instan.
Daripada memaksa naik kasta lalu pindah, lebih baik mulai dari fondasi:
1. Bereskan Gelora Kie Raha lewat APBD + CSR perusahaan tambang termasuk PT Mineral Trobos milik David Glen Oei
2. Hidupkan Persiter dan akademi usia dini di tiap kabupaten/kota
3. Bikin regulasi agar sebagian keuntungan tambang wajib kembali ke pembinaan olahraga daerah
Biar nanti kalau ada klub dari Malut naik lagi, dia tidak perlu pergi. Dia cukup pulang dan bertanding di depan anak-anaknya sendiri.
Karena sepak bola bukan cuma soal siapa yang punya uang.
Sepak bola adalah soal siapa yang punya rumah.
*Nabil M Salim, pengamat Sepakbola

Editor: Tommy R.Arief

