TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberikan ultimatum kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA, termasuk Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), terkait rencana penjualan sebagian kepemilikan hak komersial dan operasional ajang Piala Dunia.
Asosiasi yang tidak mendukung proposal tersebut dalam waktu 53 hari disebut berpotensi menerima pendanaan yang lebih kecil pada siklus berikutnya.
Rencana ini menjadi salah satu kebijakan paling kontroversial yang diusulkan FIFA dalam beberapa tahun terakhir.
Organisasi sepak bola dunia itu berencana membuka peluang bagi investor pihak ketiga untuk memiliki saham minoritas tanpa hak kendali melalui anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
FFE dibentuk untuk mengelola hak-hak komersial seluruh turnamen FIFA di masa mendatang, termasuk Piala Dunia. Nilai anak perusahaan tersebut diperkirakan mencapai 15 miliar poundsterling, atau sekitar Rp330 triliun (kurs sekitar Rp22.000 per poundsterling).
Laporan menyebut perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat, Thrive Eternal, yang didirikan oleh saudara Joshua Kushner—adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump—diperkirakan akan memimpin proses investasi swasta tersebut.
UEFA Kritik Proposal FIFA
Usulan tersebut langsung menuai kritik keras. UEFA mengeluarkan pernyataan yang menilai FIFA telah “melewati batas” dan meminta seluruh pemangku kepentingan sepak bola dunia mencermati proposal tersebut secara serius.
Di tengah gelombang penolakan, Infantino justru meningkatkan tekanan kepada asosiasi anggota dengan menawarkan paket pendanaan hingga 40 juta dolar AS atau sekitar Rp656 miliar untuk setiap asosiasi apabila proposal disetujui sebelum tenggat waktu yang ditentukan.
Dalam surat yang dikirim kepada seluruh anggota FIFA, Infantino menegaskan bahwa asosiasi hanya memiliki waktu 53 hari untuk memberikan persetujuan.
Apabila proposal diterima, FIFA akan menyiapkan paket pendanaan pengembangan sebesar 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp164 triliun mulai 1 Januari 2027.
Namun jika proposal ditolak, dana pengembangan yang tersedia hanya sebesar 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp44,3 triliun.
“Merupakan tugas dan tanggung jawab saya sebagai Presiden FIFA untuk menghadirkan peluang yang dapat mengubah permainan bagi para anggota kami,” sebut Infantino dalam surat tersebut.
Ia juga menyatakan bahwa setiap asosiasi anggota berpeluang memperoleh akses pendanaan hingga 40 juta dolar AS dalam siklus pendanaan yang dimulai pada 1 Januari 2027 apabila proposal disetujui.
FA Inggris Khawatir
Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengaku belum menerima rincian lengkap mengenai proposal tersebut. Meski demikian, FA menyatakan memiliki kekhawatiran serius terhadap proses penyusunannya.
“Kami sama sekali tidak mengetahui adanya proposal ini dan belum memiliki rincian substansial, termasuk apa isi usulannya serta syarat-syarat yang menyertainya,” kata juru bicara FA.
“Berdasarkan informasi yang sangat terbatas, kami sangat prihatin terhadap kurangnya proses dan tata kelola yang membawa proposal ini ke tahap sekarang, serta substansi dan prinsip-prinsip yang tampaknya terkandung di dalamnya.”
FA menambahkan pihaknya akan menyampaikan sikap resmi setelah FIFA menyerahkan proposal secara lengkap dan transparan.
Sikap serupa juga disampaikan oleh Asosiasi Sepak Bola Wales dan Irlandia yang memilih menunggu dokumen resmi sebelum memberikan tanggapan.
Di sisi lain, UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan darurat secara virtual dengan 55 asosiasi anggotanya pada Kamis (30/7) untuk membahas langkah bersama dalam menyikapi proposal FIFA.
Sejumlah laporan menyebut opsi boikot juga dapat dibahas apabila rencana tersebut tetap dilanjutkan.

