TERMINALNEWS.ID, LONDON – Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, dilaporkan memilih tidak menghadiri final Piala Dunia sebagai bentuk protes terhadap keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman larangan bermain satu pertandingan untuk penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Menurut laporan The Times, absennya Ceferin dari laga puncak turnamen tidak lepas dari polemik yang muncul setelah FIFA membatalkan sementara sanksi otomatis yang seharusnya dijalani Balogun.
Kontroversi bermula ketika Balogun menerima kartu merah akibat pelanggaran terhadap Tarik Muharemovic dalam kemenangan 2-0 Amerika Serikat atas Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar. Berdasarkan regulasi FIFA, pemain yang menerima kartu merah wajib menjalani larangan bermain satu pertandingan berikutnya, sehingga Balogun seharusnya absen saat Amerika Serikat menghadapi Belgia di babak 16 besar.
Namun, menjelang pertandingan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino. Tak lama kemudian, FIFA memutuskan menangguhkan pelaksanaan hukuman Balogun selama masa percobaan 12 bulan berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. Keputusan itu membuat penyerang AS Monaco tersebut tetap dapat tampil melawan Belgia.
Dalam pernyataan resminya pada 5 Juli, FIFA menjelaskan bahwa hukuman tersebut hanya ditangguhkan selama satu tahun masa percobaan. Jika Balogun kembali melakukan pelanggaran dengan tingkat keseriusan yang sama dalam periode tersebut, maka larangan bermain akan langsung diberlakukan tanpa mengurangi sanksi tambahan atas pelanggaran baru.
Banding yang diajukan Federasi Sepak Bola Belgia kemudian ditolak FIFA, meski keputusan tersebut memicu kritik dari suporter, pemain, dan pengamat sepak bola di berbagai negara.
Trump sendiri mengakui telah berbicara dengan Infantino karena menilai insiden yang melibatkan Balogun bukan merupakan sebuah pelanggaran. Ia menegaskan tidak memerintahkan FIFA untuk mengubah keputusan, tetapi hanya menyampaikan pendapatnya bahwa kedua pemain sama-sama berlari dalam kecepatan tinggi dan bertabrakan secara tidak sengaja.

Di sisi lain, UEFA merespons keras keputusan FIFA melalui pernyataan resmi. Badan sepak bola Eropa itu menilai FIFA telah “melampaui batas” dengan mengambil keputusan yang dianggap tidak dapat dipahami dan tidak dapat dibenarkan.
UEFA menegaskan bahwa larangan bermain minimal satu pertandingan setelah kartu merah merupakan aturan otomatis yang tidak bersifat diskresioner dan tidak memerlukan keputusan tambahan untuk diberlakukan. Menurut UEFA, pengecualian terhadap aturan tersebut, terlebih di tengah berlangsungnya turnamen, dapat merusak integritas kompetisi serta menciptakan preseden yang berbahaya bagi kasus serupa di masa mendatang.
Laporan The Times menyebut polemik Balogun menjadi salah satu alasan utama Ceferin memboikot final Piala Dunia. Hubungan antara UEFA dan FIFA juga dikabarkan semakin memanas setelah turnamen tersebut.
Selain persoalan Balogun, Ceferin disebut kecewa terhadap keputusan otoritas Amerika Serikat yang tidak mengizinkan wasit asal Somalia, Omar Artan, memasuki negara tersebut. Artan kini telah ditunjuk sebagai wasit final Piala Super UEFA yang mempertemukan Paris Saint-Germain dan Aston Villa pada Agustus mendatang.
Ketegangan juga dipicu oleh sejumlah keputusan FIFA lainnya, termasuk penanganan terhadap tim nasional Iran, penerapan aturan baru seperti hydration break, serta penambahan durasi jeda babak pertama pada final Piala Dunia untuk mengakomodasi pertunjukan paruh waktu.
Ceferin, yang sebelumnya menghadiri laga pembuka Piala Dunia antara Meksiko dan Afrika Selatan, juga diketahui menjadi salah satu pengkritik strategi penetapan harga tiket dinamis (dynamic pricing) yang diterapkan FIFA selama turnamen berlangsung.


