OLEH: Tommy R Arief
INI baru namanya nonton bola.
90 menit “jual beli serangan” antara Spanyol vs Belgia tadi pagi ditutup dengan skor 2-1 untuk La Furia Roja. Dari menit pertama sampai peluit akhir, kita nggak sempat napas. Spanyol menekan, Belgia menyengat.
Dan di tengah drama itu, satu nama bikin kita semua duduk di ujung sofa: Charles De Ketelaere. Kalem. Dingin. Tapi bikin deg-degan.
Babak pertama milik Spanyol. Umpan pendek, tiki-taka, gelombang serangan datang terus. Mereka lebih banyak mengancam.
Hampir, hampir, dan hampir. Rasanya tinggal nunggu waktu aja gol itu datang.
Tapi Belgia bukan tim yang mau mati berdiri. Mereka sabar. Mereka nunggu celah. Dan celah itu datang lewat Charles De Ketelaere.
Lagi dalam top performancenya. Nggak banyak gerak, tapi tiap pegang bola rasanya bahaya. “Kalem tapi menyengat” banget.
Dia jadi bukti kalau sepak bola nggak melulu soal dominasi. Kadang satu sentuhan dingin bisa bikin satu stadion diem.
Goooool! Teriakan itu pecah beberapa kali. Serruuu… kita yang nonton ikut berdiri, ikut maki wasit, ikut doa. Terhibur banget. Ini sepak bola yang kita kangenin.
Pada akhirnya, ketajaman Spanyol di kotak penalti bicara. 2-1. Dominasi dibayar tuntas dengan kemenangan.
Belgia pulang dengan kepala tegak. Mereka kalah, tapi nggak dipermalukan. Spanyol lolos, tapi juga dapat PR: gimana cara nembus pertahanan tim yang main lebih sabar di babak selanjutnya.
Satu tiket ke final sudah di tangan.
Pertanyaannya sekarang: siapa lagi yang mampu menghentikan La Furia Roja?
Dan mampukah Spanyol menjaga ritme “jual beli serangan” ini sampai laga puncak?
Final sudah menunggu. Dan kita? Siapin kopi lagi.
*Tommy R Arief, wartawan senior sepakbola



