TERMINALNEWS.ID – Bicara sepak bola bukan hanya soal kemampuan mengolah bola di lapangan, tetapi juga tentang jiwa nasionalisme. Patriotisme yang diperlihatkan Saelan dan rekan-rekannya itulah yang membuat pertahanan Indonesia begitu kokoh hingga menyulitkan Uni Soviet meraih kemenangan.
Penampilan mengejutkan Timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956 tak hanya menjadi kebanggaan rakyat Indonesia, tetapi juga memikat perhatian Presiden Soekarno. Sang Presiden bahkan kerap mengajak Pasukan Garuda dalam setiap kunjungan kenegaraan untuk menjalani laga-laga persahabatan sebagai bagian dari diplomasi bangsa.
Dari pengalaman itulah Dali Tahir dikatakan Taufik Jursal mengenal sosok Saelan.
“Ia pernah bertemu langsung dengan para pemain Timnas ketika mendampingi Presiden Soekarno dalam kunjungan ke Italia. Saat itu, Dali tinggal di Italia karena ayahnya bertugas sebagai Atase Pertahanan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Italia,” jelas Taufik Jursal Effendi.
Membandingkan masa lalu dengan kondisi saat ini, Dali diakui TAufik Jursal Effendi menilai wajah Timnas Indonesia telah mengalami perubahan besar. Menurutnya, kebijakan PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir berbeda dengan semangat yang pernah dibangun Ir. Soeratin, Ketua Umum PSSI pertama, yang lebih mengutamakan pembinaan dan memberikan ruang luas bagi pemain-pemain lokal untuk berkembang.
Kini, kata Dali, PSSI memilih membangun kekuatan tim secara lebih instan dengan mengandalkan pemain-pemain naturalisasi, terutama yang berasal dari Belanda. Kebijakan tersebut, menurutnya, secara tidak langsung membuat kesempatan pemain-pemain asli Indonesia untuk menembus skuad Garuda menjadi semakin terbatas.
Karena itu menurut Taufik Jursal Effendi, Dali Tahir berpendapat bahwa popularitas yang saat ini dinikmati Timnas Indonesia hanyalah sebuah fatamorgana. Ia menilai pencapaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan pembinaan sepak bola nasional yang berkelanjutan, melainkan lebih didorong oleh hasil jangka pendek melalui kebijakan naturalisasi.
Taufik Jursal Effendi juga mengakui filosofi legendaris Arsene Wenger selama masa kepemimpinannya di Arsenal.
“Kalimat ini bukan sekadar strategi transfer, melainkan sebuah pernyataan prinsip tentang pengembangan bakat, kata Taufik Jursal Effendi.
Berikut adalah esensi dari pemikiran Wenger tersebut:
Filosofi Developing, not Buying: Wenger percaya bahwa nilai sejati seorang pelatih dan klub sepak bola terletak pada kemampuannya untuk mengasah potensi pemain muda menjadi pemain kelas dunia, alih-alih hanya mengandalkan kekuatan finansial untuk membeli pemain yang sudah matang (jadi).
Kepercayaan pada Proses: Ungkapan “Tidak ada Bintang di usia muda” menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa bakat mentah membutuhkan waktu, kesabaran, dan bimbingan untuk mencapai level bintang. Ia melihat potensi sebagai proyek jangka panjang, bukan hasil instan.
Identitas Klub: Bagi Wenger, Arsenal di bawah asuhannya dibangun di atas fondasi identitas permainan yang kolektif. Ia merasa bahwa dengan mendidik pemain sejak muda, mereka akan lebih memahami filosofi klub dibandingkan pemain bintang yang didatangkan dengan ego besar dan gaji tinggi.
”Saya selalu percaya bahwa jika Anda ingin menjadi hebat, Anda harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi hebat,” kata Arsene Wenger.


