JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Kementerian Kebudayaan menggelar refleksi sekaligus penguatan etos pemajuan kebudayaan di Jakarta, sebagai tindak lanjut arahan Prabowo Subianto terkait efisiensi energi. Kegiatan ini berlangsung di Graha Utama dan dihadiri jajaran pejabat serta aparatur kementerian.
Dalam suasana pasca-Idulfitri 1446 Hijriah, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya menjadikan momen ini sebagai titik balik. Bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga peneguhan niat dalam bekerja untuk pemajuan kebudayaan.
Menurut Fadli, efisiensi energi tidak bisa dipisahkan dari etos kerja aparatur. Di tengah tekanan global mulai dari gejolak geopolitik hingga ketidakpastian ekonomi aparatur negara dituntut lebih adaptif. Salah satunya melalui pola kerja fleksibel, termasuk skema kerja jarak jauh pada waktu tertentu.
“Kepekaan terhadap situasi global menjadi kunci. Efisiensi harus diterapkan, baik dalam penggunaan energi maupun dalam pola kerja,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan pergeseran cara pandang birokrasi: dari sekadar administratif menuju responsif terhadap perubahan zaman. Dalam konteks kebudayaan, hal ini menjadi penting. Sebab, kebudayaan tak hanya soal pelestarian, tetapi juga strategi menghadapi tantangan global.
Fadli juga menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan harus berperan sebagai motor penggerak ekosistem kebudayaan nasional. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah hingga komunitas menjadi fondasi utama.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Bambang Wibawarta, menyebut momentum ini sebagai ruang refleksi kolektif. Ia menekankan pentingnya sinergi dan kesinambungan dalam kerja-kerja kebudayaan.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Menteri Giring Ganesha Djumaryo bersama jajaran pejabat lainnya. Kehadiran mereka menegaskan satu pesan: pemajuan kebudayaan membutuhkan konsolidasi internal yang kuat.
Di tengah arus perubahan global, kebudayaan ditempatkan bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai kekuatan strategis. Efisiensi, adaptasi, dan kolaborasi menjadi tiga kata kunci yang digaungkan.
Pada akhirnya, refleksi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat bahwa di balik kebijakan dan program, terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan sebagai fondasi bangsa.|Sumber Kemenbud RI


