BOGOR, TERMINALNEWS.ID — Gideon Badminton Academy (GBA) memberikan apresiasi kepada atlet binaannya yang berhasil menembus Pelatnas PBSI Cipayung dengan mengembalikan biaya latihan selama dua tahun.
Kebijakan ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras atlet sekaligus motivasi bagi pemain muda lain untuk terus berjuang meraih prestasi di level nasional.
Apresiasi tersebut diberikan kepada Joven Farandi, atlet binaan GBA yang mengikuti program latihan secara mandiri selama dua tahun. Selama periode tersebut, Joven tercatat telah membayar biaya latihan dengan total mencapai Rp162 juta, yang kini dikembalikan sepenuhnya oleh akademi setelah ia berhasil menembus Pelatnas PBSI.
Joven Farandi bersama rekannya Joseph Marcellino Kyta berhasil mengamankan tempat di Pelatnas Cipayung setelah meraih gelar juara pada Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI 2026. Dalam partai final, pasangan ini mengalahkan wakil Candra Wijaya International Badinton Center (CWIBC), Ardiola Dionilo / Raffarel Radzinski Sadad, dengan skor identik 21–19, 21–19.
CEO Gideon Badminton Academy, Marcus Fernaldi Gideon, mengatakan bahwa kebijakan pengembalian biaya latihan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus dorongan motivasi bagi para atlet muda yang sedang menjalani proses pembinaan di GBA.
“Ini bentuk apresiasi untuk atlet yang masuk pelatnas dari jalur biaya mandiri, bukan beasiswa. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi atlet-atlet lain untuk terus berlatih dan berjuang menembus pelatnas,” ujar Marcus dalam acara pemberian apresiasi di Gideon Badminton Hall, Ciangsana, Bogor, Senin (9/3/2026).
Marcus yang akrab disapa Sinyo menambahkan bahwa sistem pembinaan di GBA memiliki pendekatan berbeda dibandingkan banyak klub besar lainnya di Indonesia.
“Kami di sini mencoba mendidik semua menjadi atlet. Berbeda dengan tim lain, kami membina dari awal. Seperti Joven yang bergabung bersama kami selama dua tahun dari Bangka bisa menunjukkan perkembangan luar biasa dan akhirnya masuk Pelatnas,” ujar Marcus.
Menurut Marcus, langkah mengembalikan biaya latihan merupakan bagian dari komitmen GBA untuk tidak menjadikan pembinaan atlet sebagai orientasi keuntungan semata.
“Mungkin awalnya kami bingung karena tidak semua yang di sini membayar. Kami punya sistem beasiswa juga dan memberikan beberapa subsidi. Kami mencoba tidak mencari untung. Kalau kami mau cari untung, tentu kami tidak akan mengembalikan uang iuran yang jumlahnya lumayan besar itu,” jelasnya.
Selain Joven Farandi, atlet GBA lain yang berhasil menembus Pelatnas tahun ini adalah Joseph Marcellino Kyta. Berbeda dengan Joven, Marcell merupakan atlet yang sejak awal mendapatkan program beasiswa dari GBA, sehingga tidak dikenakan biaya latihan selama menjalani pembinaan. Marcell sendiri mulai bergabung di GBA sejak usia 10 tahun.
Keberhasilan pasangan Joven/Marcell menambah daftar atlet binaan GBA yang berhasil menembus Pelatnas PBSI dalam dua tahun terakhir. Pada tahun sebelumnya, pasangan ganda campuran Muhammad Nawaf Khoiriyansyah dan Luna Rianty Saffana juga berhasil masuk Pelatnas setelah meraih prestasi pada Kejuaraan Nasional PBSI 2024 dan turnamen Sirnas Premier.
Dengan demikian, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, empat atlet binaan Gideon Badminton Academy berhasil menembus Pelatnas PBSI Cipayung.
Marcus mengaku bangga melihat perkembangan akademi yang baru berdiri pada tahun 2022 tersebut mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembinaan bulu tangkis nasional.
“Dalam dua tahun sudah ada empat pemain kita yang masuk pelatnas. Tahun lalu dua orang, tahun ini dua orang lagi. Senang sekali melihat perkembangannya,” ujar mantan pemain ganda putra nomor satu dunia yang pernah berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Ia berharap ke depan GBA dapat secara konsisten menyumbangkan atlet ke Pelatnas.
“Ke depan saya harap lebih banyak lagi yang bisa masuk pelatnas. Minimal setiap tahun ada pemain dari GBA yang bisa menyumbang untuk pelatnas,” katanya.
Sejak memutuskan pensiun dari dunia profesional, Marcus kini aktif terlibat langsung dalam proses pembinaan atlet di akademi tersebut. Ia kerap hadir di lapangan untuk memantau latihan para atlet bahkan sesekali menjadi sparring partner.
“Kalau tidak ada kegiatan lain, saya biasanya datang setiap pagi untuk memantau latihan. Setelah itu kadang saya ikut sparring dengan mereka,” ujarnya.
Selain Marcus, GBA juga menghadirkan sejumlah pemain berpengalaman untuk meningkatkan kualitas latihan atlet muda. Beberapa atlet pelatnas juga kerap datang berlatih bersama sehingga memberikan pengalaman tanding yang lebih kompetitif.
Dalam pengembangan akademi, GBA juga mulai memperkuat sektor tunggal dengan merekrut mantan pemain pelatnas Tommy Sugiarto sebagai pelatih. Kehadiran peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia 2014 tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pemain tunggal di akademi.
“Mas Tommy sangat membantu di sektor tunggal. Baru sekitar empat bulan bergabung, tapi sudah terlihat perkembangan pemainnya, bahkan ada yang bisa ikut Seleknas,” kata Marcus.
Gideon Badminton Academy sendiri lahir dari mimpi almarhum Kurniahu Tjio Kay Kie, ayah Marcus Gideon, yang memiliki keinginan kuat untuk membangun fasilitas pembinaan bulu tangkis dan mencetak atlet masa depan Indonesia.
Marcus mengungkapkan bahwa awalnya ia sempat ragu untuk membangun akademi tersebut karena membutuhkan investasi yang besar. Namun tekad sang ayah akhirnya membuat GBA berdiri dan berkembang hingga sekarang.
“Ini sebenarnya mimpi papa. Awalnya saya sempat ragu karena biayanya besar. Tapi papa punya tekad kuat untuk membangun tempat pembinaan bulu tangkis,” ujar Marcus.
Kurniahu meninggal dunia pada 29 Januari 2026. Sebelum wafat, ia sempat menyaksikan keberhasilan atlet GBA menembus Pelatnas pada tahun 2025.
Acara pemberian apresiasi kepada atlet yang lolos Pelatnas ini juga digelar bertepatan dengan ulang tahun Marcus Fernaldi Gideon serta peringatan 40 hari wafatnya Kurniahu Tjio Kay Kie, sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang menjadi penggerak utama berdirinya akademi tersebut.
Melalui program pembinaan yang berkelanjutan, Gideon Badminton Academy berharap dapat terus melahirkan atlet-atlet muda berbakat yang mampu memperkuat prestasi bulu tangkis Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

