TEL AVIV, TERMINALNEWS.ID – Kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, melancarkan serangan roket dan drone besar-besaran ke wilayah utara Israel selama berjam-jam pada Rabu malam (11/3/2026). Serangan ini memaksa ratusan ribu warga Israel bergegas menuju tempat perlindungan.
Serangan tersebut menjadi yang terbesar sejak ketegangan meningkat awal bulan ini. Hezbollah disebut melancarkan serangan sebagai dukungan terhadap Iran, yang tengah menghadapi gempuran udara intens dari operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.
Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, Hezbollah memulai serangan dengan menembakkan sekitar 100 roket ke Israel. Pada saat yang sama, sebuah rudal dari Iran menargetkan wilayah tengah Israel dalam operasi yang disebut oleh Islamic Revolutionary Guard Corps sebagai serangan terkoordinasi.
Selain itu, sejumlah rudal Iran lainnya juga diarahkan ke wilayah utara dan selatan Israel.
Sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel. Namun beberapa proyektil tetap jatuh di darat dan menyebabkan kebakaran di sejumlah lokasi.
Layanan ambulans Israel, Magen David Adom, melaporkan dua orang mengalami luka ringan akibat terkena pecahan benda yang beterbangan setelah roket menghantam sebuah area. Korban terdiri dari seorang perempuan berusia 35 tahun dan seorang pria berusia sekitar 50 tahun.
Menurut tim penyelamat, salah satu korban terluka setelah sebuah roket menghantam rumah di kota Bi’ina, wilayah utara Israel. Selain itu, empat orang lainnya dirawat di lokasi karena mengalami kecemasan akut.
Militer Israel, Israel Defense Forces (IDF), meminta warga di wilayah utara untuk tetap berada dekat tempat perlindungan.
Sepanjang malam, Hezbollah terus menembakkan roket dan drone sehingga sirene peringatan serangan udara berbunyi di berbagai wilayah seperti Galilea, kota Haifa, serta sejumlah komunitas hingga sekitar 50 kilometer dari perbatasan Lebanon.
Menurut perkiraan militer Israel, sedikitnya 150 roket ditembakkan ke wilayah utara dalam beberapa jam.
Beberapa roket jarak jauh juga jatuh di area terbuka. Karena tidak mengancam kawasan permukiman, militer Israel tidak mengaktifkan sirene peringatan untuk proyektil tersebut.
Serangan terus berlanjut hingga Kamis dini hari dengan peringatan infiltrasi drone dan roket di kota Nahariya, wilayah Galilea Barat, Acre, serta beberapa pinggiran utara Haifa.
Hezbollah juga menembakkan roket jarak jauh yang memicu sirene di Tel Aviv dan wilayah sekitarnya. Pada saat yang sama, militer Israel mendeteksi rudal balistik dari Iran yang memicu alarm di Israel tengah, wilayah Jerusalem, dan sebagian kawasan selatan.
Beberapa proyektil berhasil dicegat, namun polisi melaporkan adanya kerusakan akibat jatuhnya salah satu proyektil di Israel tengah. Pecahan dari rudal yang berhasil dicegat juga dilaporkan jatuh di sejumlah lokasi.
Sebagai respons, IDF melancarkan serangan udara besar-besaran ke basis Hezbollah di pinggiran selatan Beirut, Lebanon.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan peluncur roket dan berbagai infrastruktur militer Hezbollah untuk mencegah serangan lanjutan ke Israel.
Menjelang serangan ke Beirut, juru bicara militer Israel Kolonel Avichay Adraee kembali memperingatkan warga sipil Lebanon untuk meninggalkan wilayah selatan ibu kota tersebut.
“Jangan kembali ke wilayah pinggiran selatan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” katanya.
Laporan wartawan di lapangan menyebutkan ledakan besar terdengar di berbagai bagian kota. Media pemerintah Lebanon bahkan melaporkan sedikitnya enam serangan udara besar menghantam wilayah selatan Beirut.
Seorang pejabat senior Israel memperingatkan bahwa konflik dapat meningkat drastis jika pemerintah Lebanon tidak mengambil tindakan terhadap Hezbollah.
“Pemerintah Lebanon harus mengendalikan situasi di negaranya, atau wilayah Beirut yang dikuasai Hezbollah akan segera terlihat seperti Gaza,” ujar pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa Israel memiliki kemampuan untuk melancarkan operasi militer secara bersamaan terhadap Iran dan Hezbollah.
Israel juga disebut telah mengirim peringatan kepada pemerintah Lebanon melalui Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Jika Beirut tidak menahan Hezbollah, Israel mengancam akan menyerang infrastruktur nasional Lebanon.
Konflik antara Israel dan Hezbollah sendiri telah berlangsung sejak 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Hamas ke wilayah selatan Israel yang memicu perang di Gaza.
Ketegangan meningkat menjadi perang terbuka pada September 2024 sebelum akhirnya dihentikan oleh gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada November tahun yang sama.
Namun Israel menilai pemerintah Lebanon belum melakukan langkah cukup untuk melucuti Hezbollah, sehingga serangan sporadis terus terjadi hingga saat ini.

