MANCHESTER, TERMINALNEWS.ID – Manajer Manchester City, Pep Guardiola, kembali menyita perhatian publik lewat pernyataan kerasnya soal berbagai konflik dan ketidakadilan yang terjadi di dunia.
Dalam konferensi pers jelang leg kedua semifinal Carabao Cup melawan Newcastle United di Etihad Stadium, Selasa waktu setempat, Guardiola menyampaikan pidato emosional yang jarang terjadi dalam dunia sepak bola.
Pelatih asal Spanyol itu memang dikenal vokal dalam isu-isu kemanusiaan dan politik. Sebelumnya, Guardiola beberapa kali menyatakan dukungan terhadap Palestina.

Bahkan, pekan lalu ia absen dari agenda media Manchester City setelah menghadiri konser amal di Barcelona yang secara terbuka menyuarakan dukungan bagi anak-anak Palestina.
Soroti Penembakan oleh Agen ICE di Amerika Serikat
Dalam konferensi pers terbarunya, Guardiola secara khusus menyinggung kasus penembakan yang melibatkan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Amerika Serikat. Dua korban, Renee Good dan Alex Pretti, tewas dalam insiden yang memicu gelombang protes di berbagai kota di AS.
Pemerintah Amerika Serikat sempat membela tindakan tersebut. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menyebut Alex Pretti—seorang perawat berusia 37 tahun—sebagai “teroris domestik”, sementara mantan Presiden Donald Trump menyebutnya “mungkin seorang pemberontak”.
Guardiola menilai peristiwa itu tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.
“Lihat apa yang terjadi di Amerika Serikat. Renee Good dan Alex Pretti terbunuh. Bayangkan seorang perawat, dikelilingi lima atau enam orang, lalu ditembak 10 kali. Bagaimana mungkin itu bisa dibela? Jika seseorang melakukan kesalahan, ia harus dipenjara, bukan ditembak mati,” ujar Guardiola.
Ia menegaskan bahwa tidak ada masyarakat yang sempurna, tetapi kekerasan seperti itu tetap tidak dapat diterima.
“Tidak ada masyarakat yang sempurna, saya juga tidak sempurna. Tapi siapa yang bisa membela hal seperti itu? Saya tidak tahu. Saya akan selalu berdiri menentangnya,” tegasnya.
“Genosida dan Perang Menyakiti Saya”
Tak hanya Amerika Serikat, Guardiola juga menyoroti konflik di Palestina, Ukraina, Rusia, dan Sudan. Ia menilai, di era modern saat ini, manusia justru semakin mudah menyaksikan penderitaan sesama.
“Tidak pernah dalam sejarah umat manusia kita memiliki informasi sejelas sekarang. Kita melihat genosida di Palestina, perang di Ukraina, Rusia, Sudan, dan di banyak tempat lain. Semua itu ada di depan mata kita. Ini adalah masalah kita sebagai manusia,” kata Guardiola.
Menurutnya, penderitaan akibat perang tidak mengenal sisi atau posisi politik tertentu.
“Jika itu terjadi di sisi lain, saya juga akan merasa sakit. Ketika ribuan orang tak bersalah dibunuh, itu menyakiti saya. Sesederhana itu,” lanjutnya.
Guardiola mengaku tidak bisa memahami bagaimana seseorang bisa tetap acuh ketika melihat penderitaan korban perang setiap hari.
“Setiap hari kita melihat gambar ayah, ibu, dan anak-anak yang hidupnya hancur. Bagaimana mungkin orang tidak merasakan sedikit empati? Saya tidak bisa memahaminya,” ucapnya dengan nada emosional.
Seruan Kemanusiaan dan Perlindungan Pengungsi
Guardiola juga menyinggung pentingnya membantu para pengungsi yang terpaksa meninggalkan negaranya akibat konflik dan kekerasan.
“Orang-orang yang melarikan diri dari negaranya, menyeberangi laut dengan perahu, jangan tanya apakah mereka benar atau salah. Selamatkan mereka. Mereka adalah manusia. Nyawa manusia harus dilindungi,” tegas Guardiola.
Ia menutup pernyataannya dengan refleksi pahit tentang kemajuan teknologi yang tidak sejalan dengan kemanusiaan.
“Kita bisa mencapai bulan, teknologi kita luar biasa. Tapi kita masih saling membunuh. Untuk apa? Itu menyakitkan. Itulah mengapa, di posisi apa pun saya berada, jika saya bisa berbicara untuk masyarakat yang lebih baik, saya akan melakukannya.”

