Kronologi Penembakan Mario Pineida
Menurut laporan media lokal Ekuador, Pineida—yang terakhir bermain untuk Barcelona SC—ditembak di kawasan Samanes, wilayah utara Guayaquil. Polisi menyebut insiden tersebut menewaskan dua orang, sementara satu korban lainnya mengalami luka-luka.
Situs Ecuavisa, dikutip media Brasil Globo, mengungkapkan bahwa Pineida ditembak di depan sebuah toko daging di lingkungan Sanales. Istri Pineida juga dilaporkan meninggal dunia, sementara sang ibu yang berada di lokasi kejadian mengalami luka akibat serangan tersebut.
Melalui media sosial, Fluminense menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya mantan pemain mereka.
“Fluminense Football Club menerima dengan kesedihan mendalam kabar wafatnya Mario Pineida, atlet yang membela klub pada 2022. Ia datang pada awal musim ketika kami bersama-sama menjuarai Campeonato Carioca,” tulis Fluminense.
Sementara itu, Barcelona SC juga mengeluarkan pernyataan resmi yang menyentuh.
“Barcelona Sporting Club menerima dengan duka mendalam kabar meninggalnya pemain kami, Mario Pineida, akibat serangan terhadap dirinya. Berita ini sangat menyedihkan seluruh keluarga besar Barcelona,” tulis klub asal Guayaquil tersebut.
Barcelona SC menyatakan akan memberikan informasi lanjutan terkait acara penghormatan untuk Pineida dan meminta publik mendoakan almarhum serta keluarganya.
Yang lebih memilukan, Pineida disebut baru saja meminta perlindungan khusus kepada klubnya karena mengaku menerima ancaman pembunuhan. Hal ini diungkap Presiden Barcelona de Guayaquil, Antonio Alvarez, hanya beberapa jam sebelum tragedi terjadi.
Selain itu, skuad Barcelona SC diketahui menolak berlatih pada Rabu pagi sebagai bentuk protes karena empat bulan gaji belum dibayarkan.
Karier Mario Pineida
Mario Pineida memulai karier profesionalnya bersama Independiente del Valle (2010–2015), sebelum bergabung dengan Barcelona SC pada 2016. Bersama klub tersebut, ia meraih dua gelar liga Ekuador dalam kurun enam tahun. Pineida juga mencatatkan sembilan caps bersama timnas Ekuador.
Pada 2022, ia sempat memperkuat Fluminense di Brasil dan merasakan gelar juara tingkat negara bagian Rio de Janeiro.
Kematian Pineida menambah panjang daftar tragedi di sepak bola Ekuador. Media lokal mencatat setidaknya tiga pemain lain tewas akibat serangan kekerasan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk Maicol Valencia, Leandro Yepez, dan Jonathan Gonzalez. Bahkan pada November lalu, pemain akademi berusia 16 tahun, Miguel Nazareno, ditemukan meninggal dunia di rumahnya.
Laporan terbaru menyebut Ekuador berpotensi mengalami tahun paling mematikan sepanjang sejarah, dengan lebih dari 9.000 kasus pembunuhan, menurut Observatorium Kejahatan Terorganisir Ekuador.


