JAKARTA, TERMINALNEWS.ID — Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Pusat periode 2025–2030, Suryansyah, menyatakan dukungan penuh terhadap wacana Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 digelar di Jakarta.
Dukungan ini sejalan dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang menilai Jakarta lebih siap dari sisi infrastruktur serta mampu menjamin keberlanjutan dan efisiensi anggaran.
Saat ini, PON 2028 direncanakan berlangsung di Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, hingga kini, persiapan penyelenggaraan dinilai belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Suryansyah menilai gagasan Pramono Anung merupakan pendekatan yang realistis dan rasional, terutama di tengah tantangan pembinaan olahraga nasional yang selama ini kerap dibayangi persoalan klasik, yakni pemanfaatan venue pasca-event.
Menurutnya, sejarah panjang pelaksanaan PON di berbagai daerah menunjukkan banyak fasilitas olahraga berbiaya besar yang akhirnya terbengkalai.
“Pernyataan Gubernur DKI Jakarta sangat relevan dengan kondisi faktual yang kita hadapi. Asas keberlanjutan harus menjadi pertimbangan utama. Kita punya catatan panjang soal venue PON yang akhirnya hanya menjadi bangunan kosong,” ungkap Suriansah di temui di Kantin Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (18/12/2025).
Suryansyah mencontohkan PON 2008 di Kalimantan Timur dan PON 2012 di Riau sebagai pelajaran penting. Pada dua ajang tersebut, banyak fasilitas olahraga dibangun dengan dana besar, sebagian besar bersumber dari APBN, namun pasca-event tidak dimanfaatkan secara optimal.
“Fakta ini tidak bisa diabaikan. Uang negara yang jumlahnya sangat besar seharusnya memberi manfaat jangka panjang. Kenyataannya, banyak venue PON justru menjadi monumen pemborosan karena tidak terintegrasi dengan kebutuhan pembinaan olahraga daerah,” jelasnya.
Dalam kondisi ekonomi nasional yang dinilai belum sepenuhnya stabil, Suryansyah menegaskan bahwa membangun fasilitas baru yang berpotensi mangkrak bukanlah pilihan bijak.
“Jakarta sebagai tuan rumah PON 2028 dapat meminimalkan risiko tersebut karena telah memiliki infrastruktur olahraga yang memadai,” kata Sur, panggilan akrab Suryansyah.
Diakuinya, Jakarta masih menyimpan banyak fasilitas olahraga peninggalan Asian Games 2018 yang hingga kini terawat dan aktif digunakan. Mulai dari stadion, arena indoor, hingga kawasan olahraga terpadu dinilai siap mendukung pelaksanaan PON tanpa perlu pembangunan besar-besaran.
“Jakarta tidak perlu membangun dari nol. Venue sudah tersedia, tinggal optimalisasi dan penyesuaian teknis. Ini sejalan dengan pernyataan Pak Pramono bahwa DKI tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk pembangunan fasilitas baru,” urai Sur.
Lebih lanjut, ia menilai penyelenggaraan PON di Jakarta membuka peluang pengelolaan event yang lebih profesional dan akuntabel. Pengalaman ibu kota menjadi tuan rumah berbagai multi-event internasional dinilai membuat Jakarta unggul dari sisi sumber daya manusia, manajemen, dan ekosistem pendukung.
Suryansyah juga menekankan bahwa PON 2028 di Jakarta bisa menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola olahraga nasional, termasuk model penyelenggaraan PON yang selama ini kerap dikritik boros anggaran dan minim dampak jangka panjang.
“PON seharusnya tidak hanya menjadi pesta olahraga sesaat, tetapi juga instrumen pembinaan olahraga berkelanjutan. Apa yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta patut didukung karena berpijak pada efisiensi, keberlanjutan, dan akal sehat,” paparnya.
Sebagai organisasi wartawan olahraga, SIWO PWI Pusat menegaskan komitmennya untuk terus mendorong diskursus publik yang konstruktif terkait masa depan PON dan pembinaan olahraga nasional agar lebih efektif, efisien, dan berorientasi jangka panjang.


