Instalasi Air Minum Milik Perusahaan Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor di Kampung Geleduh, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang. (Jef Sukapura)
TERMINALNEWS.ID, BOGOR – Ribuan pelanggan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang mengeluhkan sering terhentinya aliran air ledeng dan kualitas air yang keruh. Kondisi ini berdampak pada sekitar 17 ribu pelanggan yang tersebar di empat kecamatan, yakni Leuwiliang, Cibungbulang, Ciampea, dan Leuwisadeng.
Akibat gangguan tersebut, kantor cabang Perumda Air Minum Tirta Kahuripan di Leuwiliang kerap didatangi pelanggan yang menyampaikan protes dan kekecewaan atas pelayanan yang diterima.
Wahyu Setiabudi, salah satu pelanggan, mengaku selama 10 tahun menjadi pelanggan Tirta Kahuripan dirinya belum pernah merasakan pelayanan air yang memuaskan.
“Selama 10 tahun menjadi pelanggan, selama itu pula kami tidak pernah merasakan pelayanan suplai air yang memuaskan,” ujar Wahyu kepada TerminalNews.co, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, aliran air sering mati pada jam-jam sibuk, baik pagi, siang, maupun sore hari. Air baru kembali mengalir normal pada dini hari.
“Setiap hari pada jam sibuk air ledeng sering mati, lalu kembali normal sekitar pukul 01.00 atau 02.00 dini hari. Ini sangat mengecewakan,” keluhnya.
Wahyu menambahkan, dirinya bersama pelanggan lain sudah beberapa kali mendatangi kantor cabang untuk menyampaikan protes, namun hingga kini kondisi tersebut belum berubah.
Instalasi Air Minum Milik Perusahaan Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor di Kampung Geleduh, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang. (Jef Sukapura)
Kapasitas Instalasi Dinilai Tidak Mencukupi
Keluhan serupa disampaikan Ida Farida. Ia menilai sering matinya aliran air berasal dari keterbatasan kapasitas instalasi pengolahan air di Kampung Geleduh, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, serta instalasi di Pasir Angin, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang.
Selain kapasitas yang dinilai tidak mencukupi, Ida juga menyoroti usia mesin di kedua instalasi yang sudah tua dan perlu diganti.
“Jika kedua instalasi tersebut ditingkatkan dan peralatannya diperbarui, saya yakin masalah air yang sering mati dan keruh bisa teratasi,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bogor turut membantu penambahan modal bagi perusahaan daerah tersebut agar pelayanan kepada pelanggan dapat ditingkatkan.
Perumda Akui Kapasitas Belum Maksimal
Manager Cabang Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang, Dany Prasetya, membenarkan adanya gangguan pelayanan akibat kapasitas instalasi yang belum maksimal.
“Saat ini kapasitas air dari kedua instalasi sekitar 60 liter per detik. Dengan jumlah pelanggan mencapai 17 ribu, kapasitas tersebut memang belum mencukupi,” ujarnya.
Dany menjelaskan, kebutuhan ideal untuk melayani seluruh pelanggan diperkirakan mencapai 200 liter per detik. Selain itu, tingginya tingkat kekeruhan air atau Nephelometric Turbidity Unit (NTU) juga menjadi kendala dalam proses penjernihan.
“Solusinya adalah peremajaan instalasi, penambahan reservoir, dan peningkatan kapasitas produksi air,” pungkasnya. (Jef Sukapura)