LOS ANGEES, TERMINALNEWS.ID – Shaquille O’Neal dikenal sebagai salah satu legenda terbesar NBA. Bukan hanya karena kariernya yang gemilang, tetapi juga perannya kini sebagai komentator dan entertainer di program Inside the NBA.
Selama 19 tahun berkarier, pria berjuluk The Big Diesel ini menorehkan prestasi luar biasa: 15 kali terpilih sebagai All-Star, 14 kali masuk All-NBA Team, dua kali menjadi top skor liga, dan meraih gelar MVP NBA 2000.
Ia juga memenangkan empat cincin juara NBA serta tiga kali menjadi Finals MVP. Dominasi fisik dan kekuatannya membuat Shaq sulit dilupakan dalam sejarah basket dunia.
Puncak kejayaan O’Neal terjadi pada final NBA 2000–2002 bersama Los Angeles Lakers. Saat itu, ia mencetak rata-rata 35,3 poin per gim dan membawa Lakers meraih gelar three-peat terakhir dalam sejarah klub.

Kini sebagai analis, Shaq kerap melontarkan opini kontroversial soal NBA. Ia sering membandingkan era dirinya dengan pemain saat ini, termasuk komentar “pemain zaman sekarang tak akan sanggup bersaing di eraku”.
Shaq: Dr. J Setara dengan Jordan
Dalam wawancara di podcast Drink Champs, Shaq ditanya siapa pemain yang ia anggap setara dengan Michael Jordan. Banyak yang menduga ia akan menyebut nama LeBron James atau Kobe Bryant, mantan rekannya di Lakers. Namun jawabannya mengejutkan: Julius “Dr. J” Erving.
O’Neal menilai sulit membandingkan pemain lintas era karena gaya permainan dan tingkat kompetisi yang berbeda. Menurutnya, cara terbaik adalah menilai dominasi tiap era.
“Bagi saya, Jordan adalah yang terbaik sepanjang masa. Tapi Dr. J juga yang terbaik, karena dia yang memulainya. Setelah itu muncul Magic, lalu Mike. Jadi pembicaraan ini sebaiknya dilihat berdasarkan era,” kata Shaq.
Pilihan Shaq memang tak biasa, mengingat banyak pihak lebih sering menempatkan LeBron James, Kareem Abdul-Jabbar, atau Magic Johnson dalam perdebatan GOAT (Greatest of All Time). Namun, ia menegaskan bahwa Erving punya pengaruh besar yang kerap terabaikan dibanding Bird, Magic, atau Jordan.

Inspirasi Shaq dari Dr. J
O’Neal juga mengungkapkan bahwa Julius Erving adalah sosok yang menginspirasinya untuk menjadi pemain NBA. Menyaksikan aksi Dr. J secara langsung, kata Shaq, merupakan pengalaman terbaik yang membuatnya bersemangat menekuni basket profesional.
Bagi generasi 1970–1980-an, Erving memang ikon yang mengubah wajah NBA. Ia memadukan dominasi, gaya bermain penuh hiburan, dan prestasi. Catatannya pun tak main-main: 16 kali All-Star, empat kali MVP NBA, serta juara NBA 1983.
Dr. J dikenang bukan hanya karena prestasi, tetapi juga karena gayanya yang penuh imajinasi. Aksinya dalam Final NBA 1980, saat melakukan reverse scoop shot di udara, masih menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah liga.

Dengan pernyataan ini, Shaquille O’Neal kembali menegaskan bahwa perdebatan tentang siapa pemain terbaik sepanjang masa seharusnya dilihat berdasarkan era. Dan bagi dirinya, Julius Erving pantas disejajarkan dengan Michael Jordan sebagai ikon yang membentuk wajah modern NBA.


