JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Menginjak tahun keenam penyelenggaraannya, Piala Presiden 2024 kembali hadir dengan ambisi menjadi ajang percontohan bagi kompetisi sepak bola di Indonesia.
Turnamen yang berlangsung dari 19 Juli hingga 4 Agustus 2024 ini mendapatkan dukungan besar dari sponsor dan publik, membuktikan transparansi dan integritas yang dijaga oleh penyelenggara.
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2015, Piala Presiden telah mengedepankan sepak bola bersih tanpa pengaturan skor, transparansi hadiah, dan nilai sponsorship. Turnamen ini digelar tanpa dukungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), menunjukkan komitmen untuk membangun ekosistem sepak bola yang sehat.
Pada tahun ini, dalam waktu tiga pekan, Piala Presiden berhasil menjaring dana sponsorship hingga Rp68 miliar, membuktikan bahwa industri olahraga sepak bola dapat dipercaya.
Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) Piala Presiden, Maruarar Sirait, menekankan pentingnya partisipasi swasta dalam membangun industri sepak bola.
“Kita harus menyuguhkan pertandingan yang bermutu, bukan hanya dari segi permainan tetapi juga pendukung lainnya, seperti broadcast,” kata Maruarar.
Berdasarkan data SCM, pemegang hak siar Piala Presiden, rating tontonan di rumah mencapai 20-41 persen, dengan puncaknya pada final pertama 2015 antara Persib Bandung dan Sriwijaya FC (SFC).
Hadiah dan Dampak Ekonomi
Piala Presiden memberikan hadiah pemenang sebesar Rp5 miliar, di luar uang tanding (match fee) yang diberikan kepada klub peserta. Tim yang menang mendapatkan Rp350 juta, tim kalah Rp150 juta, dan tim yang seri mendapatkan Rp250 juta.
Besarnya nilai sponsorship juga membuka kemungkinan untuk menambah nominal hadiah, yang saat ini sudah lebih besar dibandingkan juara kompetisi profesional kasta tertinggi di Tanah Air.
Turnamen ini juga memberikan dampak positif bagi ekonomi kerakyatan dengan mengikutsertakan UMKM di sekitar venue pertandingan.
“Sesuai visi dan misi Piala Presiden, harus berdampak. Ojek, kaki lima, warung-warung, pedagang kaus, merchandise klub harus lebih meningkat penjualannya,” imbuh Maruarar.
Ekosistem pertandingan yang sudah terbentuk dari sisi penyelenggara, PSSI, sponsor, dan suporter harus diteruskan. PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi diharapkan dapat menjaga ekosistem ini.
Turnamen kali ini juga menjadi ajang uji coba semua aturan yang akan diterapkan di Liga 1 musim 2024-2025, termasuk penerapan Video Assistant Referee (VAR), aturan baru dalam pertandingan, serta aturan baru terkait pemain asing dan pemain U-21.
Dengan transparansi keuangan yang diaudit oleh auditor independen internasional, Piala Presiden 2024 menunjukkan bahwa turnamen sepak bola dapat berjalan dengan profesionalisme tinggi dan integritas yang terjaga. Diharapkan, kesuksesan ini dapat menjadi contoh bagi kompetisi sepak bola lainnya di Indonesia.


