JAKARTA, TERMINALNEWS.ID — Tim sepak bola usia 14 (U14) dan usia 16 (U16) KONI Pusat terus mematangkan persiapan menghadapi turnamen internasional di Penang, Malaysia, Agustus mendatang.
Pada Jumat (11/7/2025), mereka menjalani laga uji coba ketiga melawan tim Pusat Pendidikan Olahraga Pelajar (PPOP) DKI Jakarta di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan.
Hasil pertandingan menunjukkan perkembangan yang positif bagi tim asuhan pelatih Maman Suryaman. Tim U16 berhasil menahan imbang PPOP DKI dengan skor 0-0. Sementara tim U14 harus mengakui keunggulan lawan yang berusia di atas mereka dengan skor 0-2.
Pertandingan tim U16 berlangsung dengan intensitas tinggi. Kedua tim saling jual beli serangan sepanjang laga, namun tak ada gol yang tercipta hingga peluit panjang dibunyikan. Skor kacamata mencerminkan betapa ketatnya pertandingan ini.
Di sisi lain, tim U14 harus menelan kekalahan 0-2. Meski demikian, hasil ini tetap diapresiasi mengingat lawan yang dihadapi memiliki usia rata-rata lebih tua dan postur fisik lebih unggul.
Pelatih kepala Maman Suryaman menyebut para pemainnya menunjukkan permainan yang konsisten dan penuh semangat, khususnya di babak pertama.
Ia menilai kekalahan tim U14 bukan karena kualitas permainan, melainkan perbedaan fisik yang signifikan.
“Anak-anak bermain cukup baik dan konsisten. Meski tertinggal 0-2 di awal laga, mereka mampu menjaga ritme permainan. Postur tubuh dan kekuatan fisik menjadi kendala karena lawan lebih tua dua tahun,” ujar Maman kepada wartawan usai pertandingan.
Maman juga memberikan apresiasi khusus kepada tim U16 yang mampu mengimbangi permainan PPOP DKI secara keseluruhan. Ia menilai kedua tim memiliki kualitas permainan yang cukup seimbang.
“Permainan berjalan menarik. Ada jual beli serangan yang enak disaksikan. Secara postur dan kualitas permainan, kedua tim tidak jauh berbeda. Ini progres yang sangat baik,” lanjutnya.
Bersama asisten pelatih Aris Yulianto, Maman mengungkapkan bahwa fokus utama saat ini adalah pembenahan teknik dan strategi melalui sesi latihan intensif.
Uji coba tetap penting, namun tak bisa dilakukan terlalu sering karena keterbatasan waktu menjelang keberangkatan ke Malaysia.
“Kita ingin ada persiapan lebih matang. Latihan itu tidak selalu harus lewat uji coba. Kita perlu waktu untuk memperkuat tim. Tapi tetap akan ada satu uji coba lagi sebelum berangkat ke Penang,” jelas Maman yang merupakan mantan pemain timnas Indonesia peraih medali emas SEA Games 1991.
Ia menambahkan, meskipun tim baru dibentuk dalam waktu singkat, para pemain mampu menunjukkan performa kompetitif saat menghadapi lawan yang lebih berpengalaman.
Hal ini menurutnya menjadi sinyal positif bahwa tim memiliki potensi berkembang lebih jauh.
Maman mengungkapkan bahwa banyak tim yang mengajukan diri untuk melakukan uji coba melawan skuad KONI U14 dan U16.
Namun, demi menjaga fokus latihan, hanya satu uji coba tambahan yang akan dijadwalkan sebelum keberangkatan.
“Banyak yang ingin uji coba, tapi kami harus selektif. Kami lebih butuh latihan tertutup saat ini agar anak-anak bisa fokus memperbaiki kekurangan,” tegasnya.
Dengan waktu persiapan yang terbatas, tim pelatih tetap optimistis dapat membawa tim KONI Indonesia tampil maksimal di ajang internasional.
Kedua tim direncanakan bertolak ke Penang, Malaysia, pada Agustus 2025 untuk mengikuti turnamen sepak bola remaja tingkat Asia Tenggara.
Pelatih dan jajaran ofisial berharap uji coba terakhir sebelum keberangkatan dapat semakin mengasah kekompakan dan performa individu para pemain.
Target utama mereka adalah tampil kompetitif dan membanggakan nama Indonesia di kancah internasional.


