BerandaNasionalLengser Keprabon

Lengser Keprabon

OLEH: ALEX PALIT

Dalam kosmologi Jawa dikatakan bahwa kekuasaan itu universum, dalam artian bahwa kekuasaan tidak lepas atau tidak bisa dipisahkan campur tangan alam semesta, dan menjadikan bahwa kekuasaan itu hadir sebagai sesuatu yang agung dan sakral.

Sebagaimana ditemui dalam budaya Jawa, bahwa kekuasaan itu tidak sekedar sebagai sebuah legitimasi politis, di dalamnya juga melekat sesuatu yang agung, mulia, keramat, sakral, dan mengandung dimensi metafisis yang berasal dari “dunia Atas”.

Begitupun alam metafisis kosmologi Jawa, kekuasaan yang ada dalam diri seorang pemimpin tak lepas dari semua itu. Ia akan hadir bersemayam pada orang-orang terpilih yang mendapat wahyu cakraningrat atau wahyu keprabon dan memiliki daya linuwih, maka terjunjung derajatnya untuk menyandang posisi pemimpin.

Baca Juga :   Kolonel Marinir FJH Pardosi dan 19 Perwira Menengah Lainnya Dipromosi Jadi Perwira Tinggi

Dalam kepemimpinan budaya Jawa, ada dikenal ungkapan lengser keprabon. Istilah ini lengser keprabon sering terhubung turunnya sang raja dari tahta kekuasaannya, lantaran sang raja kehilangan sinar wahyu keprabon, hal ini antara lain ditandai mulai meredupnya legitimasi politiknya.

Ia juga mulai kehilangan kredibilitas di mata rakyat, sehingga terjadi krisis kepemimpinan, karena dianggap tidak amanah, mengabaikan tugas utamanya mensejahterakan rakyat, lebih mementingkan diri sendiri, keluarga dan kroni-kroninya. Atau prilaku lainnya sang raja yang melengserkan kredibilitasnya di mata rakyat.

Termasuk adanya kepercayaan, manakala penerima wahyu keprabon dalam kepemimpinannya menyalahgunakan kekuasaannya, bertindak sewenang-wenang atau otoritarian, berperilaku tidak adil, wahyu keprabon itu akan ditarik kembali oleh “dunia Atas”.

Baca Juga :   “Teror” Densus dan Kejagung

Wahyu keprabon yang diterimanya akan sirna atau hengkang meninggalkan dirinya. Itulah sunatullah, hukum alam.
Semiotika lengser keprabon di dunia perwayangan ditemui dalam lakon “Petruk Dadi Ratu”.

Di mana Petruk yang sejatinya punakawan, karena ambisi politiknya untuk berkuasa kemudian mencuri pusaka Kalimasada yaitu pusaka bertuah simbolisasi kepemimpinan.

Pusaka bertuah Kalimasada ini ia curi demi hasrat ambisi untuk berkuasa. Setelah berkuasa menjadi raja, Petruk mabuk kekuasaan, lupa diri sejati dirinya.

Begitulah kosmologi budaya kepemimpinan Jawa dalam memaknai tanda-tanda alam “Petruk Dadi Ratu” lengser keprabon.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Tiara Hedy dan Birgita Joy Raih Juara 2 Renjani Ngonten Pajak 2026, Harumkan Nama UB Malang

MALANG, TERMINALNEWS.ID - Dua mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Jurusan Perpajakan...

Diskusi ‘Ngobrol Santai Bareng Kartini Seni, Musik dan Film’ Peringati Hari Kartini 2026 Bakal Digelar Forwan

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID - Setelah sukses menggelar Diskusi Riang Gembira bertajuk Perempuan...

Ferry Juliantono Resmi Dilantik Jadi Menteri Koperasi, Dapat Ucapan Hangat dari Sahabat H. AR. Hidayat, SH

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Dr. Ferry Juliantono resmi dilantik sebagai Menteri Koperasi...

Kapolri Mendukung Penuh Kongres Penyatuan PWI, Harapkan Organisasi Wartawan ini Segera Bersatu

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID - Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyatakan dukungan...

- A word from our sponsors -

spot_img