LIVERPOOL, TERMINALNEWS.ID – Harapan besar menyelimuti Liverpool saat mendatangkan El Hadji Diouf dari Lens pada 2002 dengan nilai transfer sekitar 10 juta pound.
Bersinar bersama Senegal di Piala Dunia 2002, Diouf direkrut manajer Gerard Houllier untuk membantu The Reds menyaingi dominasi Arsenal di Premier League.
Namun, kenyataan berkata lain. Karier Diouf di Anfield justru dikenang sebagai salah satu transfer paling mengecewakan dalam sejarah Liverpool. Dalam 79 penampilan, penyerang asal Senegal itu hanya mencetak enam gol sebelum akhirnya hengkang pada 2005, meninggalkan lebih banyak kontroversi ketimbang prestasi.
Masa bakti Diouf bertepatan dengan periode sulit Liverpool di awal 2000-an. Selain performa minim kontribusi, ia juga kerap terlibat konflik internal, terutama dengan dua ikon klub, Steven Gerrard dan Jamie Carragher.

Carragher, bek kelahiran Bootle yang mencatat 737 penampilan untuk Liverpool sepanjang 1996–2013, secara terbuka menyebut Diouf sebagai rekan setim terburuk yang pernah ia miliki.
“Dia punya salah satu rasio gol terburuk untuk penyerang dalam sejarah Liverpool. Dia satu-satunya nomor 9 yang melewati satu musim penuh tanpa mencetak gol. Bahkan di latihan, dia selalu jadi pilihan terakhir,” ujar Carragher.
Perseteruan keduanya kembali mencuat pada 2015 ketika Carragher diminta menyebut pemain terburuk yang pernah bermain bersamanya.
“Yang terburuk harus El Hadji Diouf. Saya malah lebih menikmati bermain melawannya, karena saat itu Anda bisa menendangnya. Tidak bisa menendang rekan sendiri,” kata Carragher, menyindir.
Pernyataan tersebut jelas memancing reaksi keras. Diouf, yang bermain 53 kali bersama Carragher di Liverpool antara 2002–2004, membalas dengan komentar pedas dalam wawancara dengan majalah So Foot di Prancis.
“Perbedaannya, saya pemain kelas dunia dan dia cuma sampah. Tipe sampah yang menulis buku dan terus menyebut nama saya. Dalam buku saya, dia bahkan tidak layak satu kalimat,” ucap Diouf dengan nada keras.
Bukan hanya Carragher, Steven Gerrard juga mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Diouf dalam autobiografinya pada 2007.

“Saya bukan penggemar Diouf. Saya tahu pemain mana yang lapar akan sukses dan punya Liverpool di hati. Diouf hanya peduli pada dirinya sendiri. Sikapnya salah, dan dia tidak benar-benar mau berjuang untuk membawa Liverpool kembali ke puncak,” tulis Gerrard.
Menanggapi kritik tersebut, Diouf kembali menunjukkan kepercayaan diri berlebihan.
“Yang saya pedulikan hanya tim nasional Senegal. Saya membawa mereka ke perempat final Piala Dunia 2002. Saya masuk daftar 100 pemain terbaik versi Pele, bukan dia,” balas Diouf.
Ironisnya, saat Gerrard dan Carragher mengangkat trofi Liga Champions 2005, Diouf justru melanjutkan kariernya berpindah-pindah klub, mulai dari Bolton Wanderers, Sunderland, Blackburn Rovers, Rangers, Doncaster, hingga Leeds United, sebelum pensiun pada 2015 usai bermain di Malaysia.
Hingga kini, nama El Hadji Diouf masih kerap disebut dalam daftar transfer terburuk Liverpool, bukan hanya karena minim kontribusi di lapangan, tetapi juga karena konflik panjangnya dengan para legenda The Reds.


