LONDON, TERMINALNEWS.ID – Memasuki fase krusial musim Premier League 2025/2026, perputaran kursi pelatih alias managerial merry-go-round diprediksi kembali terjadi. Ketatnya persaingan membuat tidak semua manajer mampu menyelesaikan musim dengan aman.
Sepak bola modern yang sangat berorientasi hasil membuat margin kesalahan semakin tipis. Bahkan pelatih seperti Ruben Amorim dan Thomas Frank sudah menjadi korban, setelah kehilangan jabatan masing-masing di klub besar Inggris.
Artikel ini mengulas posisi para manajer Premier League berdasarkan tingkat keamanan jabatan mereka—mulai dari yang paling aman hingga yang paling berisiko dipecat.
Penilaian Performa
Beberapa indikator utama dalam menentukan posisi pelatih antara lain:
- Performa di Premier League
- Hasil di kompetisi lain (FA Cup, Carabao Cup, Liga Champions)
- Performa terkini
- Ekspektasi manajemen klub
- Warisan atau kontribusi pelatih
- Dukungan suporter
20–16: Posisi Relatif Aman
20. Mikel Arteta (Arsenal)
Arsenal kembali finis runner-up musim lalu dan kini memimpin klasemen 2026 dengan keunggulan 9 poin. Meski belum meraih trofi liga, Arteta masih dipercaya penuh oleh klub.
19. Pep Guardiola (Manchester City)
Guardiola baru meneken kontrak hingga 2027. Meski City sempat menurun akibat cedera pemain kunci, proyek regenerasi tim membuat posisinya tetap aman.
18. Michael Carrick (Manchester United)
Sebagai pelatih interim, Carrick tampil impresif dengan 7 kemenangan dari 9 laga. Status legenda klub memperkuat peluangnya dipermanenkan.
17. Keith Andrews (Brentford)
Meski minim pengalaman, Andrews sukses menjaga performa Brentford tetap kompetitif bahkan setelah kehilangan pemain kunci.
16. Unai Emery (Aston Villa)
Villa sempat tampil impresif, namun penurunan performa di 2026 membuat Emery mulai mendapat tekanan.
15–11: Mulai Tertekan
15. Regis Le Bris (Sunderland)
Pelatih asal Prancis ini sukses membawa Sunderland bertahan di papan tengah setelah promosi.
14. Marco Silva (Fulham)
Konsistensi Fulham membuat Silva relatif aman, meski kontraknya hampir habis.
13. Andoni Iraola (Bournemouth)
Menjadi salah satu pelatih paling menjanjikan di Eropa, Iraola justru lebih berisiko “dibajak” klub besar daripada dipecat.
12. David Moyes (Everton)
Moyes sukses membangkitkan Everton dan berpeluang membawa klub ke kompetisi Eropa.
11. Rob Edwards (Wolves)
Meski menunjukkan progres, ancaman degradasi masih membayangi.
10–6: Zona Waspada
10. Roberto De Zerbi (Tottenham)
Baru ditunjuk, tapi rekam jejak konflik internal membuat masa depannya belum pasti.
9. Daniel Farke (Leeds)
Meski membawa Leeds promosi, performa inkonsisten membuat posisinya rawan.
8. Fabian Hurzeler (Brighton)
Pelatih muda ini cukup aman, tapi tekanan tetap ada setelah beberapa hasil buruk.
7. Eddie Howe (Newcastle)
Meski membawa trofi, inkonsistensi performa membuat posisinya tidak sepenuhnya aman.
6. Vitor Pereira (Nottingham Forest)
Performa buruk dan posisi di papan bawah membuat Pereira dalam tekanan besar.
5 Besar: Paling Terancam Dipecat
5. Liam Rosenior (Chelsea)
Hasil naik-turun dan keraguan manajemen membuat masa depannya dipertanyakan.
4. Nuno Espirito Santo (West Ham)
West Ham masih berada di zona degradasi—hasil buruk bisa berujung pemecatan.
3. Oliver Glasner (Crystal Palace)
Meski sempat membawa trofi, konflik dengan fans dan rencana hengkang membuat posisinya tidak stabil.
2. Arne Slot (Liverpool)
Meski juara musim lalu, performa buruk musim ini dan hasil di Liga Champions bisa jadi penentu nasibnya.
1. Scott Parker (Burnley)
Burnley tampil buruk di Premier League. Dengan hanya satu kemenangan di 2026, Parker jadi kandidat terkuat untuk dipecat.
Dinamika kursi pelatih di Premier League selalu penuh tekanan. Bahkan nama besar pun tidak kebal dari pemecatan jika hasil tidak sesuai harapan. Saat musim memasuki fase akhir, setiap pertandingan bisa menjadi penentu nasib seorang manajer—bertahan atau angkat kaki.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin daftar ini akan berubah drastis sebelum musim berakhir.


