OLEH: P. Bramandaru
BEBERAPA HARI LALU kita dikejutkan oleh banjir bandang yang menghantam Dataran Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Kejadian yang tidak pernah kita waspadai bahwa bencana itu datang begitu tiba tiba layaknya pencuri masuk kerumah kita.
Sosok Ibu Pertiwi adalah ibu bumi, dia yang patut kita hormati, dia juga patut kita jaga karena dia memberikan sumber kehidupan, kasih sayang yang tidak berkesudahan dan juga memberikan kemakmuran untuk menuju kesejahteraan.
Ibu Pertiwi juga merupakan tanah air yang melahirkan serta membesarkan setiap insan manusia untuk tumbuh, melahirkan merawat serta melindungi warganya dari hal hal yang tidak kita kehendaki seperti datangnya bencana.
Ibu Pertiwi sedang menangis untuk kesekian kalinya dibumi tercinta Indonesia.
Orang orang yang gagah yang berani terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak berhenti untuk terus merusak Alam, hutan dan tidak melakukan pengawasan terhadap praktek praktek penebangan dan pembabatan hutan secara serampangan tidak memikirkan dampak dari kerusakan alam dan hutan yang dilakukan oleh kerakusan segelintir manusia demi kekayaan yang fana.
Tuhan menciptakan Alam Semesta, dengan segala macam misterinya.
Manusia serakah tentu tidak akan pernah mencari pengetahuan akan misteri Alam semesta tersebut.
Dalam Alam Semesta kadang kita manusia tidak ikut sertakan bahwa Alam semesta tercipta karena pikiran Tuhan, mereka berpikir bahwa karena pikiran manusia ansich yang memberikan keadaan Alam semesta itu ada.
Kerusakan Alam akibat pikiran dan ulah manusia. Bencana ada karena ulah manusia itu juga.
MAW Brouwer mengatakan bahwa ‘Tuhan Menciptakan Bumi Parahiyangan ketika Tuhan Sedang Tersenyum “.
Ini baru bumi Parahiyangan bagaimana dengan Bumi Nusantara Indonesia ?
Mungkin Tuhan tidak hanya Sedang tersenyum saja tetapi “Tuhan Sedang Tersenyum Lebar” ketika menciptakan Bumi Nusantara ini.
Bila kita selalu diberikan bencana dan bencana apakah Tuhan sedang menghukum kita?
Dan Ibu Pertiwi Menangis dan Menangis Lagi.
Kekayaan Alam dan keindahan Indonesia dari Gunung, laut sumber daya alam, adalah merupakan karya Sang Khalik yang luar biasa hingga membuat bangsa bangsa lain ingin memiliki segala sumber daya alam Indonesia dengan segala cara tentu dengan iming-iming dan segala macam tipu daya hingga membuat para pejabat dan Stakeholder negara tidak bisa menolaknya.
Kerakusan demi kerakusan terlihat dari apa yang kita saksikan
Sampai sampai Gubernur Aceh mengatakan ini adalah Tsunami ke dua untuk Daerah yang dipimpinnya.
Mgr Ignasius Suharyo mengajak umat dan masyarakat untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama pentingnya menjaga lingkungan keadilan sosial dan persaudaraan bangsa.
Mahatma Gandhi mengatakan bumi memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi “Kebutuhan Semua Orang”. Tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi “Keserakahan” Satu orang pun.
“Quo Vadis Sallus Populi Suprema Lex Esto”
Mau dikemanakan Keselamatan Rakyat Adalah Hukum Tertinggi bila keserakahan dan kerakusan tetap ada dan selalu ada.
Semoga semua kita segera sadar dan berhenti tidak lagi merusak alam semesta dan segala isinya demi menumpuk kekayaan pribadi yang fana.

- P. Bramandaru SP., SH., MH.
Alumni Fak. Pertanian Agronomi UPN “Veteran” Jogjakarta, Alumni Hukum dan Magister Hukum UBK Jakarta, Advokat, Pemerhati Sosial, Kemasyarakatan, Hukum, dan Lingkungan.


