JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Pasar modal Indonesia tengah diguncang fenomena langka yang membuat investor domestik maupun asing menaruh perhatian besar pada saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk. (DADA).
Dari harga di kisaran Rp25 per lembar, saham ini mendadak menjadi rebutan, seiring mencuatnya rumor adanya aksi backdoor listing oleh perusahaan global berskala raksasa.
Backdoor listing atau reverse takeover merupakan mekanisme ketika perusahaan besar yang belum tercatat di bursa memilih masuk melalui perusahaan publik kecil yang sudah ada.
Mekanisme ini sering dianalogikan seperti perusahaan raksasa yang “menumpang” di rumah kecil, kemudian mengubahnya menjadi gedung pencakar langit.
Fenomena inilah yang kini dikaitkan dengan saham DADA. Meski sebelumnya hanya diperdagangkan di harga rendah, rumor masuknya investor asing berkelas dunia membuat saham ini mendadak menjadi primadona.
Awalnya, DADA diperdagangkan stabil di harga Rp25 per saham. Dengan nilai buku sekitar Rp600 miliar, perusahaan ini tidak banyak menarik perhatian.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, pasar menunjukkan tanda-tanda berbeda. Lonjakan bid berjuta-juta lot, transaksi negosiasi di harga tinggi, serta meningkatnya rumor keterlibatan asing membuat DADA menjadi sorotan.
“Jika benar ada raksasa asing yang masuk melalui DADA, valuasinya akan berubah total. Dari saham receh bisa menjadi multibagger spektakuler,” ujar analis pasar modal sekaligus pendiri komunitas investasi, Michael Wijaya, dalam keterangannya, Kamis (28/8/2025).
Sejumlah analis membandingkan potensi DADA dengan beberapa saham di Bursa Tokyo.
Menurut pengamat pasar Rendy Yefta, harga saham asing di Jepang saat ini berada pada kisaran ¥3.160–¥3.170 per lembar.
Dengan kurs JPY/IDR Rp110–Rp111, nilai tersebut setara dengan Rp347.600–Rp351.870 per lembar.
Sementara itu, saham lain di Bursa Tokyo diperdagangkan pada level ¥4.290–¥4.332 per lembar atau sekitar Rp471.900–Rp480.852 jika dikonversikan ke rupiah.
Artinya, harga saham asing yang menjadi perbandingan berada di kisaran Rp472 ribu–Rp481 ribu per saham.
Dibandingkan dengan DADA yang saat ini masih berada pada level recehan, potensi peningkatan valuasi dinilai sangat besar.
Pasar bahkan mulai berspekulasi bahwa harga DADA bisa menembus Rp14.000 per lembar jika benar aksi korporasi itu terealisasi.
Meski target Rp14.000 per saham dianggap tinggi, sejumlah analis berpendapat nilai tersebut masih tergolong murah bagi investor global.
Hal itu karena mereka terbiasa dengan harga saham di atas ratusan ribu rupiah.
“Bagi investor lokal, mungkin Rp14.000 sudah terlihat tinggi. Namun bagi asing, angka itu masih dianggap receh,” kata Michael.
Ia memberikan analogi sederhana bagi investor domestik. “Bayangkan Anda punya tanah kecil seharga Rp25 juta. Tiba-tiba, developer kelas dunia datang membeli dan membangun pusat perbelanjaan modern di atasnya. Apakah nilainya tetap Rp25 juta? Tentu tidak. Nilainya akan melonjak berkali-kali lipat,” ujarnya.
Fenomena DADA menunjukkan bahwa pasar tidak pernah berbohong. Perubahan minat, tingginya transaksi, dan rumor masuknya investor asing kelas dunia menjadi sinyal kuat adanya transformasi besar yang sedang dipersiapkan.
Bagi sebagian kalangan, DADA hanya saham receh. Namun bagi investor asing dengan modal triliunan rupiah, saham ini dinilai sebagai peluang emas dengan harga diskon luar biasa.
Meski begitu, sejumlah analis tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Pasar modal, terutama pada saham berkapitalisasi kecil, rentan terhadap spekulasi dan volatilitas tinggi.
Investor disarankan tetap memperhatikan fundamental serta perkembangan resmi dari perusahaan terkait.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari manajemen DADA maupun otoritas bursa terkait rumor tersebut.
Namun, sinyal pasar yang terlihat jelas membuat banyak pelaku pasar percaya bahwa aksi korporasi besar memang sedang dipersiapkan.
Jika benar backdoor listing dilakukan oleh perusahaan asing berkapitalisasi besar, maka DADA berpotensi menjadi salah satu kisah transformasi paling fenomenal di pasar modal Indonesia.
Dari saham receh yang semula dianggap tak bernilai, bisa berubah menjadi aset buruan global dengan valuasi berlipat ganda.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana dinamika pasar modal Indonesia kian terbuka bagi masuknya modal asing melalui berbagai skema, termasuk backdoor listing.
Investor lokal diingatkan agar tidak hanya terbawa euforia, tetapi juga cermat membaca peluang dan risiko di balik setiap rumor yang beredar.
Pasar modal Indonesia kembali membuktikan daya tariknya di mata investor global. Saham DADA yang sebelumnya dipandang sebelah mata kini menjadi pusat perhatian, dengan spekulasi valuasi yang bisa melonjak hingga ratusan kali lipat.
Fenomena backdoor listing yang dikaitkan dengan masuknya perusahaan asing raksasa membuat DADA berpotensi berubah dari “cacing” menjadi “naga” di lantai bursa.
Bagi investor domestik, momentum ini bisa menjadi kesempatan langka untuk berada di awal sebuah transformasi besar, meski tetap harus diiringi kewaspadaan menghadapi risiko pasar.


