WASHINGTON, TERMINALNEWS.ID – Amerika Serikat dilaporkan tengah menyiapkan operasi militer selama beberapa minggu untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara Iran, Israel, dan AS.
Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menegaskan bahwa perang harus terus berlanjut hingga kekuatan rezim Iran benar-benar melemah.
Menurutnya, tujuan utama saat ini adalah melumpuhkan kekuatan pemerintah Iran hingga tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengancam kawasan maupun dunia.
“Kami harus memastikan rezim ini kehilangan seluruh kekuatannya. Harapannya, kondisi tersebut akan memicu rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih masa depan mereka sendiri,” ujar Leiter dalam wawancara dengan CNN.
Ia juga menyebut, konflik baru akan berakhir ketika tidak ada lagi kekuatan di Teheran yang mampu mengancam stabilitas regional.
Leiter menilai perubahan rezim bisa terjadi melalui kesadaran internal pemerintah Iran, namun kemungkinan tersebut kecil. Ia lebih meyakini bahwa perubahan akan datang dari pemberontakan rakyat.
“Rakyat Iran sudah cukup menderita. Kemungkinan besar perubahan akan datang dari mereka sendiri,” katanya.
AS dan Israel Tetap Menekan
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya juga menyerukan rakyat Iran untuk bangkit, terutama setelah gelombang protes besar pada Januari yang berakhir dengan tindakan represif.
Trump bahkan meningkatkan tekanan dengan memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz. Jika tidak dipatuhi, AS mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jika terganggu, dampaknya bisa memicu lonjakan harga energi global.
Sebagai gambaran, jika harga minyak dunia naik misalnya dari sekitar USD 80 per barel menjadi USD 100 per barel, maka dalam rupiah (kurs asumsi Rp15.500 per USD), harga tersebut setara naik dari sekitar Rp1,24 juta menjadi Rp1,55 juta per barel. Kenaikan ini berpotensi memicu inflasi global, termasuk di Indonesia.
Pejabat Gedung Putih juga disebut telah memberi tahu Israel bahwa jika Iran tidak memenuhi ultimatum, perang akan diperpanjang untuk memberi waktu bagi operasi AS membuka kembali jalur tersebut.
Infrastruktur Sipil Rusak Parah Klaim Iran
Di sisi lain, Iran menuduh serangan AS dan Israel telah merusak infrastruktur sipil secara besar-besaran.
Menteri Energi Iran, Abbas Aliabadi, mengatakan bahwa fasilitas air dan listrik mengalami kerusakan berat akibat serangan militer dan siber.
Menurutnya, puluhan fasilitas distribusi dan pengolahan air menjadi sasaran, sehingga mengganggu pasokan kebutuhan dasar masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bulan Sabit Merah Iran, Pirhossein Kolivand, menyebut lebih dari 81.365 lokasi sipil mengalami kerusakan, termasuk rumah, sekolah, pusat kesehatan, dan kendaraan.
Serangan Rudal Tetap Dijalankan
Iran dilaporkan terus meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel. Pada Minggu, tercatat 10 gelombang serangan yang menyasar wilayah tengah, utara, dan selatan Israel.
Beberapa rudal menggunakan munisi cluster yang menyebabkan sedikitnya 15 orang terluka. Sistem pertahanan udara Israel, termasuk Arrow 3, berhasil mencegat sebagian besar serangan.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, lebih dari 400 rudal balistik telah diluncurkan dari Iran ke Israel, dengan tingkat intersepsi mencapai sekitar 92 persen untuk wilayah berpenduduk.


