MILAN, TERMINALNEWS.ID – Sebelum berkarier sebagai pelatih, Alessandro Nesta dikenal sebagai salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola dunia.
Kariernya di lapangan hijau berlangsung lebih dari dua dekade, dimulai dari Lazio pada 1993 hingga akhirnya pensiun pada 2014.
Bersama Lazio, Nesta meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk Scudetto Serie A 1999/2000, dua Coppa Italia, UEFA Cup Winners’ Cup, UEFA Super Cup, serta Supercoppa Italiana.
Antara tahun 2000 hingga 2002, ia bahkan dinobatkan sebagai bek terbaik Serie A dalam tiga musim berturut-turut. Namun, masalah finansial membuat Lazio terpaksa melepasnya ke AC Milan pada 2002.

Di AC Milan, Nesta berada pada masa keemasannya. Ia membentuk lini pertahanan kokoh bersama legenda seperti Paolo Maldini, Jaap Stam, dan Cafu. Bersama Rossoneri, Nesta meraih dua gelar Liga Champions, dua Scudetto Serie A, serta berbagai trofi lainnya.
Ia juga menjadi bagian dari tim nasional Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006.
Setelah satu dekade bersama Milan, Nesta sempat bermain untuk Montreal Impact di MLS dan Chennaiyin FC di India, sebelum gantung sepatu pada 2014 dan beralih ke dunia kepelatihan.
Pengakuan Jujur: “Messi Menghancurkan Mental Saya”
Meski menghadapi banyak penyerang top dunia sepanjang kariernya, Nesta mengaku ada satu lawan yang terlalu sulit dihadapi: Lionel Messi.

Dalam wawancara pada 2021, Nesta mengenang pertemuannya dengan Messi di Liga Champions musim 2011/12, yang juga menjadi musim terakhirnya bersama AC Milan. Saat itu, Nesta sudah berusia 37 tahun, namun masih dipercaya tampil di kompetisi elite Eropa.
Messi, yang kala itu sedang berada di puncak performa di bawah Pep Guardiola, mencetak rekor 91 gol dalam setahun pada 2012.
Barcelona yang dianggap sebagai tim terbaik dunia saat itu berhadapan dengan Milan, dan di situlah Nesta merasakan langsung kedahsyatan sang megabintang Argentina.
“Ingat menit ke-10, saya menendang Messi lalu jatuh ke tanah kelelahan, sampai melihat bintang. Saat saya membuka mata, saya melihat wajahnya sambil mengulurkan tangan untuk membantu saya bangun. Di situ saya hancur secara mental. Bayangkan, saya jatuh, lalu pemain yang saya coba hentikan malah membantu saya berdiri. Itu momen yang menghancurkan mental saya,” ungkap Nesta.
Setelah musim itu, Nesta memilih melanjutkan karier di MLS sebelum akhirnya pensiun. Sementara itu, Messi terus melanjutkan dominasinya hingga kini mengoleksi delapan Ballon d’Or, terbanyak dalam sejarah sepak bola.
Bagi Nesta, yang selama kariernya dikenal sebagai salah satu bek paling tangguh di dunia, pengakuan ini menjadi bukti nyata betapa hebatnya Lionel Messi pada era keemasannya bersama Barcelona.


