16 Juni 2024
Oleh : Cocomeo Cacamarica
Malam minggu , di sekitar Ciater, Lembang, Jawa Barat. Rembulan malu-malu kucing menyianari mBah Coco. Api unggun enggan memancarkan percikan kayu bakar. Terlihat lima bintang saling kerlap-kerlip. Entah apa yang dibicarakan?
Ujug-ujug “makjejagik,” mBah Coco berimajinasi, seandainya ditunjuk menjadi Ketua Wartawan Indonesia se-Indonesia – PWI. Maklum, di organisasi yang nyaris sama tuanya dengan Indonesia, sepertinya sedang redup, menjelang ‘kematian” akibat ulah sedikit para pengurusnya, yang doyan nyolong atau ngutil uang sponsorship – uang hibah, atau uang apa saja, yang disumbangkan ke organisasi PWI.
mBah Coco, dari jauh sering mendengar gosip, isu atau pun fakta. Bahwa, oragnisasi PWI Pusat, sudah seperti “biro iklan”, sudah mirip agensi, atau sudah seperti lembaga “makelar.”
Nggak kebayang, jika tokoh-tokoh pers, yang memiliki misi visi, sebagai jurnalis, dan memiliki sikap politik yang elegan, berwibawa dan selalu diperhitungkan, sebagai sosok-sosok kharismatik bagi Republik Indonesia, seperti Rosihan Anwar, BM Diah, atau pun Jabob Oetama, jika masih hidup, melihat dan mendengar, bahwa kondisi organisasi yang didirikan, justru menjadi sangat amburadul, tidak beretika dan rusak moralnya, di saat republik ini, sudah disulap sebagai “republik mbelgedes.”
mBah Coco, jika ditunjuk sebagai Ketua PWI Pusat menggantikan cecurut-cecurut jurnalis, bermental karyawan yang tercela, ingin deklarasikan, agar organisasi wartawan, kembali ke marwah dan martabat, para pendiri PWI tahun 1946.
Namanya, juga imajinasi, makanya pembaca facebook Cocomeo Cacamarica, nggak usah baper nggak usah sewot, dan nggak perlu sirik.
Angan-angan imajinasi mBah Coco, hanya ingin mengembalikan kembali misi dan visi ketua PWI dan para pengurusnya. Bahwa posisi dari ketua, sekjen atau komite atau wadah yang dibentuk PWI, wajib harus masih menulis apa saja, di medianya masing-masing.
Banyak pengurus PWI Pusat, yang belum punya media resmi, atau banyak yang sekadar numpang nama, agar seolah-olah ada di media portal, agar bisa bertahan duduk di kepengurusan PWI, setelah pensiun dari media aslinya.
Nah, nanti saat mBah Coco, sebagai ketua PWI Pusat, mereka-mereka yang seolah-olah punya portal media resmi, diwajibkan – memiliki akun atau laman berbagai media sosial, untuk melampiaskan profesinya, sebagai jurnalis, yaitu menulis. Entah itu, di website, facebook, Instagram, twitter, atau Blog.
Jika ada yang ingin gabung dengan mBah Coco, di kepengurusan PWI Pusat, tidak memiliki ilmu seni menulis, maka jangan pernah punya cita-cita atau ambisi sebagai pengurus PWI, baik di Pusat atau pun di PWI-PWI Daerah.
Mengapa, harus wajib bisa menulis, entah itu setiap hari, atau seminggu sekali?
Bisa dibayangkan, jika sesuai perkembangan jaman. PWI Pusat, punya kegiatan. Salah satunya, memberi pengajaran, menguji para calon-calon wartawan. Tapi, ternyata saat menguji, tidak memiliki ilmu seni jurnalistik yang mumpuni. Tidak memiliki karya seni jurnalistik, yang bisa dijadikan kiblat para calon wartawan.
Apa kata truwelu dan marmut, bro?
Tujuan alam imajinasi mBah Coco, awalnya sangat kagum dan respek dari pendahulu-pendahulu jurnalis – wartawan, saat mendirikan PWI. Selain, punya sikap dalam berorganisasi, juga punya sikap politik di jamannya, khususnya terhadap “rezim” penguasa.
Sebagai ketua PWI, versi imajinasi mBah Coco, harus memiliki literasi, wawasan yang mumpuni, khususnya dibidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Oleh sebab itu, mBah Coco, seolah-olah sudah dibekali semua literasi, secara katham, dan terus menerus belajar update situsasi politik Indonesia, sesuai rezim.
Mengapa, harus punya wawasan politik, ekonomi, sosial dan budaya?
Karena, jika ketua PWI dan anggotanya, memiliki wawasan empat hal yang disebutkan mBah Coco di atas, dipastikan selalu sangat bisa, sebagai partner pemerintah. Dan, selalu dijadikan kekuatan pilar demokrasi ke-4 yang sebenar-benarnya.
Dan, warga Indonesia, akan selalu percaya, bahwa organisasi PWI, selalu menjadi barometer, dalam bersikap terhadap semua keputusan penyeimbang dan kebijakan pemerintah dalam setiap rezim.
Maklum, semua yang merasa pernah jadi dan masih menjadi wartawan, wajib paham, bahwa organisasi PWI, adalah lembaga independen, sekaligus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Oleh sebab itu, versi imajinasi mBah Coco, para pengurus PWI Pusat, wajib punya karya jurnalistik, setiap hari atau setiap minggu di medianya masing-masing, sebagai sikap organisasi, sekaligus sikap politik. Atau, minimal, sebagai hobi menulis.
mBah Coco, sangat miris melihat para pengurus PWI Pusat dalam 30 tahun terakhir, tak punya karya jurnalistik, di media masing-masing. Seolah-olah, menulis artikel atau menulis catatan jurnalistiknya, hanya saat mereka, masih duduk sebagai karyawan, di korannya masing-masing. Setelah pensiun, hanya sekadar mencari kesibukan dan peruntungan.
Siapa tahu, ada kawan atau sahabat, yang percaya pada para oknum, ikutan bergabung sebagai pengurus di PWI. Sekadar, organisasi buang-buang waktu.
Terkesan, organisasi PWI jaman “now”, hanya untuk para pensiunan wartawan. Tapi, kosong dalam karya jurnalistiknya.
Padahal, BM Diah dan Rosihan Anwar, saat duduk di PWI, justru tiap hari berebut menulis “tajuk rencana” di korannya masing-masing, hanya untuk sekadar bersikap kepada rezim. Hingga, saaat berpolemik dalam tulis menulis, merembet “berkelahi” di organisasi PWI. Busyet, daghhh! Topmarkotop !
Sementara, pengurus PWI Pusat saat ini, berebut mencari sponsor, seperti seorang marketing, di lembaga “biro iklan”, atas nama PWI Pusat. Memalukan, bukan?
Yang terlihat mBah Coco dari Ciater, dalam suhu udara 19 derajat tadi malam, PWI Pusat dan PWI-PWI Daerah, hanya berlomba-lomba mencari “mangsa”, agar setiap bulan ada banyak calon wartawan, yang ingin mendaftarkan sebagai calon wartawan. Mengutil Rp 500 ribu, sebagai syarat mendapatkan “kartu biru” pemilik kartu pers PWI.
Mirip, seperti di kantor Samsat, Ketika ingin mendapatkan Surat Ijin Mengemudi – SIM. Ada cuan untuk “membeli” kartu pers”, ya silahkan pura-pura mendaftarkan diri, dengan syarat-syarat, seolah-olah suah lengkap.
Jkia sudah lengkap, dengan membayar Pp 500 ribu, maka “kartu biru” PWI dijamin keluar.
Menjijikan, bukan?
Kembali ke soal imajinasi mBah Coco, saat bermimpi sebagai Ketua PWI Pusat. Ya, masalah para ketua, sekjen dan pengurusnya, wajib bisa menulis, wajib bisa memberi contoh karya jurnalistiknya, kepada para calon anggota wartawan di seluruh Indonesia.
Tanpa, bisa memberi contoh. Bagaimana cara menulis berita? Bagaimana caranya bisa menulis feauter? Bagaimana caranya menulis berita beropini? Atau, bagaimana caranya menulis tajuk rencana. Maka, siapa saja, tak bisa menjadi pengurus PWI Pusat atau pun PWI-PWI di Daerah.
Mudah-mudahan, imajinasi mBah Coco, terkesan hanya mimpi di siang bolong, hari Minggu yang mendung-mendung ngehek.
Bijimane?


