SINGAPURA, TERMINALNEWS.ID – Musium Madame Tussaud dikenal sebagai musium yang menampilkan patung tokoh-tokoh dunia dari berbagai kalangan. Mulai dari tokoh politik, atlit, seniman, artis atau tokoh dari berbagai latar belakang lainnya yang namanya mendunia.
Ada beberapa Musium Madame Tussaud di dunia. Salah satunya terdapat di <span;>Pulau Sentosa (Sentosa Island) Singapura. Musium Madame Tussaud adalah salah satu tempat<span;> yang kerap dikunjungi wisatawan yang datang ke Pulau Sentosa. Tempat lain yang diminati wisatawan adalah Universal Studio, dan Casino, bagi para penjudi. Semua wahana berdiri berdampingan, tanpa ada yang merasa terusik. Wisatawan pun merasa enjoy datang ke Sentosa Island.
Dalam perjalanan saya ke Singapura baru-baru ini, saya sempat mengunjungi Musium Madame Tussaud yang ada di Sentosa Island. Ini adalah Musium Madame Tussaud kedua yang saya kunjungi setelah Musium Madame Tussaud di The Peak, Hongkong, tahun 2015 lalu.
Sebenarnya tidak terlalu mengesankan melihat koleksi musium Madame Tussaud di Sentosa Island, karena sebagian patung tokoh yang ditampilkan juga ada di Musium Madame Tussaud di Hongkong. Seperti patung Bruce Lee, Jacky Chen, Audrey Hepburn, Michael Yeoh (artis). Tiger Wood (pegolf) atau tokoh politik seperti Mahatma Gandhi dan Barack Obama.
Dari kalangan artis masih ada Elvis Presley, Madona, Ed Sheeran, Ketty Peri, Marlyn Monroe, Johny Depp dan beberapa lainnya. Artis-artis India mendapat porsi cukup besar di sini, mulai Amitabh Bachan, Sri Devi, Shahid Kapoor dan Sharukh Khan, selain Presiden India, Narendra Mody. Banyaknya icon India di sini, mungkin sebagai daya tarik bagi wisatawan dan pekerja India yang banyak datang ke Singapura.
Tetapi karena musium ini berada di Singapura, negeri Pulau ini juga ingin tokoh-tokoh nasionalnya dibuatkan patung, di antaranya patung Bapak Pendiri Singapura Lee Kuan Yew, kemudian patung anaknya PM Lee Hsien Loong (BG Lee).
Selain itu ditampilkan juga patung-patung manusia yang terkait sejarah masa lalu Malaysia, baik dari etnis Cina maupun melayu.
Di musium ini juga terdapat patung Fandi Ahmad, pesepakbola legendaris Malaysia yang pernah bermain di Groningen FC, Belanda, dan di Klub Galatama Indonesia, Niac Mitra. Patung pesepakbola terkenal asal Portugal, Ronaldo juga ada di sini. Tetapi entah kenapa, saya tidak melihat patung Leonel Messi. Di Musium Madame Tussaud Hongkong, ketika saya kunjungi dulu, ada patung Ronaldinho, seniman sepakbola asal Brazil. Patung Ronaldo dan Leonel Messi tidak ada. Waktu itu keduanya belum terkenal.
Yang menarik di Musium Madame Tussaud Semboja Island ini, ada tiga tokoh terkenal dari Indonesia. Masing-masing Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pahlawan bulutangkis Indonesia Rudy Hartono dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ini adalah patung Presiden Jokowi kedua yang ada di Musium Madame Tussaud. Yang pertama dibuat di Hongkong, tahun 2017.
Mengapa Musium Madame Tussaud mau membuat patung Jokowi? Pembuatan itu, konon dilakukan setelah pihak musium membuat polling, siapa tokoh dunia yang pantas dibuatkan patung. Menurut Sekretariat Presiden waktu itu, Darmansyah Djumala, nama Presiden Jokowi ada di urutan pertama. Di bawahnya ada Donald Trump, Hillary Clinton dan lain-lain.
Tahun 2017 bisa jadi puncak popularitas Jokowi. Pengusaha mebel yang memulai karier politiknya sebagai Walikota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta dan terpilih sebagai Presiden RI 2014 karena didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), memang sangat populer saat itu. Bukan saja di Indonesia, tetapi di dunia.
Gebrakan Jokowi dengan pembangunan infrastruktur yang luar biasa, membawa harapan besar bagi masyarakat Indonesia dan dunia, bahwa tukang kayu asal Solo ini akan membawa Indonesia menjadi salah satu negara maju di dunia. Popularitas Jokowi kemudian menciptakan para pendukung fanatiknya di dalam negeri. Bahkan sampai Pemilu 2024 ini, Jokowi Effect telah berhasil menjadikan Prabowo Subianto menjadi Presiden, dan Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden.
Akan tetapi harapan Indonesia menjadi negara maju, makmur dan sejahtera di bawah Jokowi, tidak terwujud. Jokowi bahkan dianggap menjadi pemimpin yang melanggengkan budaya nepotisme di Indonesia, dengan “membiarkan” atau mungkin mendorong anak-anak dan menantunya menjadi pejabat di Indonesia. Setelah Gibran menjadi Walikota Solo — kini terpilih sebagai Wapres RI atas “bantuan” Ketua MK Anwar Usman yang merupakan adik ipar Jokowi, Bobby Nasution, menantunya jadi Walikota Medan, Kaesan Pangarep anak bungsunya mendadak jadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Di bawah Jokowi, ekonomi Indonesia juga tidak bersinar. Hutang luar negeri terus bertambah, kurs rupiah terhadap mata uang luar negeri terus merosot (terakhir dollar mencapai di atas Rp.16.000), dan harga-harga semakin mahal, terutama harga beras yang naik dua kali lipat dalam 2 tahun terakhir.
Revolusi mental yang dijanjikan saat kampanye Presiden tahun 2014, gagal total. Bukan saja mental masyarakat tidak mengalami kemajuan, mental pegawai negeri sipil dan non sipil pun masih kedodoran. Korupsi merajalela, tingkat pengangguran tinggi, pendidikan masih mahal.
Kabar baiknya, rakyat masih bisa berobat dengan BPJS, walau pun harus ekstra sabar ketika meminta pelayanan kesehatan; masih bantuan untuk rakyat miskin, walau pun pemberian bansos sudah berhenti setelah Pilpres, walaupun janjinya akan diberi sampai bulan Juni. Hal lain yang membuat rakyat menggerutu, PPN naik dari 11 persen menjadi 12 persen, dan kini ada lagi potongan Tapera sebesar 3 persen bagi karyawan yang memiliki gaji minimal setara UMR atau lebih.
Bagi sebagian karyawan yang bergaji pas-pasan, potongan itu terasa memberatkan. Apalagi banyak pengalaman dana yang dihimpun dari masyarakat, sering disalahgunakan. Di luar itu, banyak yang mencurigai potongan Tapera itu dilakukan karena pemerintah saat ini sedang kesulitan untuk menutupi APBN mendatang, atau membiayai ibukota baru. Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi saat ini tidak terjebak dalam situasi seperti yang dikatakan Lord Acton, “Power tends to corrupt. Absolut power, corrupts absolutely”. (*/hw)


