WASHINGTON, TERMINALNEWS.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa Iran tengah bernegosiasi dengan pemerintahannya dan “sangat menginginkan” kesepakatan.
Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah Gedung Putih menyebut operasi militer AS hampir mencapai targetnya.
Komentar tersebut muncul di tengah laporan yang simpang siur mengenai pembicaraan antara AS dan Iran, hampir empat pekan sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Republik Islam Iran. Washington diketahui telah mengajukan proposal 15 poin untuk menghentikan konflik, namun respons dari Teheran dinilai dingin.
Iran disebut menginginkan syarat tambahan, yakni penghentian pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon, yang merupakan sekutu Iran. Di sisi lain, Israel terus melancarkan serangan terhadap Iran, dilaporkan karena khawatir Trump bisa mengakhiri perang secara tiba-tiba.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa operasi militer masih berjalan penuh. Ia juga menyatakan bahwa pertempuran melawan Hezbollah tetap berlanjut.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa operasi militer AS berjalan lebih cepat dari target awal, yakni empat hingga enam pekan.
“Dalam 25 hari, militer terkuat di dunia ini sudah melampaui jadwal dan menunjukkan performa luar biasa. Kami sangat dekat untuk mencapai tujuan utama operasi militer,” ujarnya.
Trump kemudian menambahkan bahwa pejabat Iran enggan mengakui adanya negosiasi karena takut terhadap ancaman internal maupun eksternal.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tapi takut mengatakannya. Mereka khawatir akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri, dan juga takut terhadap kami,” kata Trump dalam acara penggalangan dana Partai Republik.
Sementara itu, laporan media menyebutkan bahwa AS dan Israel sempat menghapus nama Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dari daftar target serangan selama beberapa hari guna membuka peluang negosiasi. Namun, upaya tersebut disebut memiliki peluang keberhasilan yang kecil.
Proposal AS sendiri mencakup tuntutan agar Iran menghentikan program nuklirnya, membatasi rudal balistik, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.
Menurut sejumlah sumber regional, Iran telah menyampaikan bahwa kesepakatan gencatan senjata harus mencakup penghentian serangan Israel terhadap Hezbollah. Media pemerintah Iran juga menegaskan bahwa Teheran menginginkan penghentian perang, baik terhadap Iran maupun kelompok “perlawanan” di kawasan.
Israel Was-was Jika Perang Dihentikan Mendadak
Di tengah situasi ini, Israel dilaporkan berupaya mempercepat serangan ke target-target strategis di Iran. Kekhawatiran muncul bahwa Trump dapat menghentikan perang secara tiba-tiba.
Netanyahu bahkan disebut telah memerintahkan militer untuk memaksimalkan serangan terhadap industri persenjataan Iran dalam waktu 48 jam ke depan.
Pemerintah Israel juga meragukan bahwa proposal damai AS mampu sepenuhnya menghilangkan ancaman nuklir dan rudal balistik Iran.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran tetap berjalan penuh, terlepas dari berbagai laporan media.
Terkait konflik dengan Hezbollah di Lebanon, ia mengklaim ancaman invasi ke wilayah utara Israel kini telah mereda. Israel juga disebut tengah memperluas zona penyangga di Lebanon guna menekan ancaman dari rudal anti-tank Hezbollah.
“Fokus kami sekarang adalah membongkar kekuatan Hezbollah. Kami bertekad mengubah situasi di Lebanon secara mendasar,” ujar Netanyahu.
Ia juga menegaskan bahwa komitmen Israel untuk melindungi komunitas Druze di Suriah tetap berlaku.
Dalam beberapa pekan terakhir, Israel meningkatkan operasi darat di Lebanon dan melancarkan serangan udara besar-besaran ke basis Hezbollah, setelah kelompok tersebut kembali menembakkan roket ke wilayah Israel sejak awal Maret di tengah konflik dengan Iran.


