JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) resmi menyatakan sikap terkait insiden yang menimpa jajaran pelatih PSPS Pekanbaru.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua APSSI, Zuchli Imran Putra S.H., M.H., setelah mengamati, mempelajari, dan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap situasi yang berkembang di klub Liga 2 tersebut.
Dalam keterangannya, APSSI menegaskan komitmen untuk memberikan perlindungan penuh kepada pelatih kepala PSPS, Ilham Romadhona, Direktur Teknik Kurniawan Dwi Julianto, serta jajaran staf pelatih lainnya.
Organisasi ini menilai tindakan sekelompok suporter PSPS terhadap pelatih telah melampaui batas kewajaran dan mencederai martabat profesi pelatih di Indonesia.
APSSI secara tegas mengecam aksi sekelompok pendukung PSPS yang mendesak mundurnya pelatih melalui cara-cara tidak pantas.
Mereka menilai aksi tersebut menyerupai “pengadilan lapangan” yang tidak sesuai mekanisme resmi dalam dunia sepak bola.
“Kami menilai hal ini sudah berlebihan karena pelatih diadili oleh suporter di luar jalur yang semestinya. Tindakan seperti ini bukan hanya merendahkan martabat pelatih, tetapi juga menimbulkan preseden buruk bagi profesi kepelatihan di tanah air,” tegas Zuchli Imran dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (22/9).
APSSI juga menyoroti bahwa aksi itu disertai umpatan, makian, hingga ancaman yang mengarah pada teror psikologis terhadap para pelatih.
Kondisi tersebut dinilai tidak sehat bagi perkembangan sepak bola nasional dan berpotensi merusak hubungan antara suporter dan tim.
Dalam pernyataannya, APSSI mengakui bahwa profesi pelatih memang identik dengan tekanan tinggi, termasuk risiko kritik, desakan mundur, hingga ancaman akibat hasil yang tidak memuaskan.
Namun, APSSI menekankan bahwa semua itu harus disalurkan melalui jalur yang konstruktif dan sesuai mekanisme.
“Kami memahami kekecewaan pendukung PSPS. Kami juga sadar bahwa kursi pelatih ibarat kursi panas yang bisa terbakar kapan saja. Tetapi dalam kasus ini, kami memandang masalahnya jauh lebih luas dari sekadar tuntutan mundur,” lanjut Zuchli.
APSSI menilai peristiwa ini membuka potensi hilangnya respek, kehormatan, dan perlindungan terhadap profesi pelatih sepak bola.
Jika dibiarkan, hal serupa bisa terulang di klub lain dan menjadi kebiasaan buruk dalam kultur sepak bola Indonesia.
APSSI menghimbau seluruh stakeholder sepak bola nasional—baik federasi, klub, pemain, hingga kelompok suporter—untuk mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai.
Menurut APSSI, penyelesaian masalah harus dilakukan dengan cara sehat, konstruktif, dan sesuai aturan yang berlaku.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun kultur sepak bola yang lebih profesional. Kritik boleh, evaluasi sangat perlu, tetapi harus ditempatkan di jalur yang benar,” kata Zuchli.
Lebih lanjut, APSSI menegaskan siap mengambil langkah hukum jika terjadi tindakan anarkis yang melampaui batas, termasuk intimidasi verbal maupun fisik terhadap para pelatih.
Organisasi ini menyatakan tidak akan ragu membawa kasus semacam itu ke aparat penegak hukum.
“Jika ada pihak yang melakukan ancaman, teror, atau intimidasi, APSSI akan melindungi anggota kami sepenuhnya dan melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib untuk diproses sesuai undang-undang,” tegas Zuchli.
Kasus yang menimpa PSPS Pekanbaru dinilai menjadi cerminan rapuhnya hubungan antara pelatih dan suporter di beberapa klub Indonesia.
Aksi berlebihan suporter tidak hanya berpotensi merusak mental para pelatih, tetapi juga dapat mengganggu fokus pemain serta manajemen dalam memperbaiki performa tim.
Selain itu, jika dibiarkan, tindakan intimidatif suporter dikhawatirkan akan membuat pelatih enggan menangani klub tertentu karena khawatir tidak mendapat perlindungan.
Hal ini bisa berdampak pada minimnya regenerasi pelatih berkualitas dan menghambat profesionalisasi sepak bola Indonesia.
APSSI menegaskan bahwa kritik adalah bagian wajar dalam olahraga, tetapi harus dilakukan dalam koridor yang tepat.
Peran federasi, manajemen klub, dan aparat keamanan juga disebut krusial dalam memastikan bahwa suporter tetap bisa menyuarakan aspirasi tanpa melanggar batas hukum.
Melalui pernyataan resmi ini, APSSI ingin memastikan bahwa pelatih sepak bola Indonesia memiliki posisi yang dilindungi dan dihormati.
Insiden yang menimpa jajaran pelatih PSPS Pekanbaru dijadikan momentum untuk menegakkan marwah profesi pelatih dan memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menjaga ekosistem sepak bola yang lebih sehat.
“Profesi pelatih harus dihargai. Tanpa pelatih, tidak ada tim yang bisa berkembang. Karena itu, kami berdiri tegak membela rekan-rekan pelatih, sekaligus mengingatkan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang sportivitas, bukan arena intimidasi,” pungkas Zuchli.


