JAKARTA, TERMINALNEWS.ID — Tokoh sepak bola nasional, Djoko Purwoko, mendesak Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menyatakan sikap resmi kepada Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) terkait netralitas venue untuk babak keempat (Round 4) Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Ia menekankan pentingnya keadilan dan netralitas dalam penunjukan tuan rumah pertandingan.
Seruan ini disampaikan Djoko menjelang agenda drawing Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juli 2025.
Djoko, yang pernah menjabat sebagai Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persikabo 1973 pada musim 2023/2024, menyoroti isu yang tengah beredar mengenai kemungkinan Qatar dan Arab Saudi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertandingan fase Round 4.
Menurut Djoko, penunjukan negara peserta sebagai tuan rumah berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan mencederai asas netralitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam kompetisi internasional.
“Penunjukan Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah sangat tidak tepat. Kedua negara itu adalah peserta langsung Round 4, sehingga memiliki kepentingan dalam hasil pertandingan. Ini bertentangan dengan prinsip fair play dan netralitas,” ujar Djoko dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (8/6/2025).
Ia menegaskan, PSSI harus bersikap tegas dan aktif menyampaikan penolakan terhadap rencana tersebut.
Djoko mendesak Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, agar segera mengirimkan surat resmi kepada AFC dan FIFA guna menolak penunjukan negara-negara peserta sebagai tuan rumah.
“PSSI harus bersurat kepada AFC dan FIFA untuk menolak penunjukan tuan rumah dari negara peserta Round 4. Pertandingan harus dilaksanakan di negara yang netral, adil, dan tidak memiliki kepentingan langsung terhadap hasil pertandingan,” tegasnya.
Sebagai alternatif, Djoko mengusulkan agar AFC dan FIFA memilih negara yang tidak terlibat dalam babak kualifikasi atau yang telah lolos otomatis ke Piala Dunia 2026.
Ia menyebut dua negara yang dinilainya paling layak menjadi tuan rumah netral: Yordania dan Korea Selatan.
“Yordania memiliki posisi geopolitik yang netral, infrastruktur sepak bola yang memadai, serta pengalaman sebagai tuan rumah berbagai ajang AFC. Sedangkan Korea Selatan sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dan memiliki infrastruktur logistik serta stadion berstandar internasional. Keduanya memenuhi syarat sebagai lokasi netral dan objektif,” papar Djoko.
Djoko menambahkan, kejelasan dan keadilan dalam penentuan venue pertandingan sangat penting, terutama bagi negara-negara seperti Indonesia yang tengah berada dalam momentum penting dalam sejarah sepak bola nasional.
Menurutnya, selain aspek teknis dan taktis, perjuangan tim nasional Indonesia juga harus didukung oleh diplomasi yang kuat dari federasi.
“Momentum ini sangat berharga bagi Indonesia. Kita sedang berada di ambang sejarah baru dalam sepak bola Asia. Kemenangan bukan hanya soal teknik di lapangan, tapi juga keberanian untuk memperjuangkan keadilan melalui diplomasi olahraga,” ungkapnya.
Ia berharap PSSI tidak bersikap pasif menghadapi isu ini dan mampu menjadi representasi aspirasi bangsa dalam forum-forum resmi AFC maupun FIFA.
Djoko menilai, keberanian mengambil sikap tegas akan mencerminkan kematangan federasi dalam menjaga marwah kompetisi serta kepentingan nasional.
“Ini bukan hanya soal venue, tapi juga soal harga diri dan keadilan. PSSI harus mengambil langkah konkret dan berani demi memastikan semua negara mendapat perlakuan yang setara,” pungkasnya.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PSSI terkait sikap federasi atas wacana penunjukan Qatar atau Arab Saudi sebagai tuan rumah pertandingan Round 4.
AFC sendiri belum memberikan konfirmasi akhir mengenai lokasi pertandingan, namun keputusan diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dekat sebelum drawing resmi dilakukan pada pertengahan Juli 2025.
Jika PSSI menindaklanjuti usulan ini, langkah tersebut akan menjadi preseden penting dalam sejarah sepak bola nasional, menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya peserta, tetapi juga penjaga nilai-nilai sportivitas dalam kompetisi internasional.


