TERMINALNEWS.ID, MIAMI – Legenda basket dunia Michael Jordan ternyata pernah hampir meninggalkan Chicago Bulls pada pertengahan 1990-an.
Situasi kontrak yang rumit membuat sang megabintang membuka peluang bergabung dengan rival di Wilayah Timur NBA, New York Knicks.
Jordan dikenal sebagai salah satu pebasket terbaik sepanjang masa. Enam gelar juara NBA, lima trofi MVP, serta dua kali membawa Bulls meraih three-peat pada era 1990-an menjadikan namanya identik dengan franchise asal Chicago tersebut.
Namun, di balik dominasi Bulls saat itu, ternyata hubungan internal klub sempat memanas. Ketidakpastian mengenai masa depan Jordan dan arah kebijakan manajemen di bawah Jerry Krause membuat sang bintang mempertimbangkan hengkang.
Dalam wawancara bersama Marvin R. Shanken pada Juli 2005, Jordan mengungkap bahwa Knicks sempat melakukan pendekatan serius pada 1996 atau 1997.

“Itu memang rumor, tetapi kami sempat melakukan pembicaraan. Situasinya terjadi karena kontrak saya di Chicago,” ujar Jordan.
Bahkan, Jordan mengakui dirinya sangat dekat untuk menerima tawaran New York.
“Jika Chicago tidak memberikan tawaran besar, New York adalah tujuan berikutnya. Kami sudah berbicara dengan Knicks. Jika telepon dari Chicago tidak datang dalam 30 menit, kami sudah siap bergabung dengan Knicks meski dengan uang lebih sedikit,” kata Jordan.
Pada masa itu, Jordan akhirnya bertahan setelah Bulls memberikan kontrak besar. Pada 1996, ia menandatangani kontrak satu tahun senilai 30,14 juta dolar AS atau sekitar Rp492 miliar (kurs Rp16.350 per dolar AS). Setahun kemudian, Jordan kembali mendapat kontrak satu musim senilai 33,14 juta dolar AS atau sekitar Rp541 miliar. Nilai tersebut menjadikannya pemain dengan bayaran tertinggi NBA kala itu.
Jika transfer ke Knicks benar-benar terjadi, sejarah NBA kemungkinan berubah total. Jordan berpotensi membentuk duet menakutkan bersama Patrick Ewing, ikon Knicks yang dikenal sebagai salah satu center terbaik dalam sejarah basket.
Kombinasi Jordan dan Ewing diyakini bakal membuat Knicks menjadi kekuatan dominan NBA. Jordan dikenal sebagai pencetak poin ulung sekaligus defender elite, sementara Ewing merupakan penguasa paint area dengan kemampuan rebound dan blok yang luar biasa.
Menariknya, keduanya juga pernah bermain bersama saat membela United States men’s national basketball team di Olimpiade 1992 dalam skuad legendaris “Dream Team”.
Sepanjang kariernya di NBA, Jordan mencatat rata-rata 30,1 poin, 6,2 rebound, dan 5,3 assist per pertandingan, serta mempersembahkan enam gelar juara untuk Bulls. Sementara Ewing menorehkan rata-rata 21 poin dan 9,8 rebound per gim selama membela Knicks.
Meski akhirnya tetap bertahan di Chicago dan menambah tiga gelar NBA lagi, kisah nyaris bergabungnya Jordan ke Knicks tetap menjadi salah satu “what if” terbesar dalam sejarah NBA.


