Berti Tutuarima Soroti Krisis Pembinaan Usia Muda, Liga Jakarta 2026 Jadi Harapan Lahirkan Talenta Baru

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID Legenda sepak bola sekaligus eks kapten Timnas Indonesia era 1980-an, Berti Tutuarima, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi pembinaan sepak bola Indonesia saat ini. Ia menilai minimnya kompetisi usia muda menjadi akar persoalan yang berdampak panjang hingga ke level tim nasional.

Pemain yang sukses membawa Indonesia menembus semi final Asia Games 1988 Seoul itu membandingkan situasi saat dirinya masih aktif sebagai pemain dengan kondisi sepak bola modern saat ini. Menurutnya, salah satu perbedaan paling mencolok adalah hilangnya kompetisi berjenjang di level junior.

“Sekarang hampir tidak ada kompetisi usia muda yang berkelanjutan. Yang ada hanya turnamen-turnamen singkat. Dulu kami punya kompetisi yang rutin, itu yang membentuk pemain,” ujar Berti.

Selain itu, pemain yang berposisi bek ini juga menyoroti semakin terbatasnya infrastruktur lapangan. Banyak lapangan yang dahulu menjadi tempat pembinaan kini beralih fungsi menjadi bangunan komersial. Kondisi ini memaksa klub, termasuk yang berstatus profesional, harus menyewa lapangan untuk berlatih.

Baca Juga :   Liga Jakarta U-17 Gandeng PT Avatara Lintas Media dan Hiplus Media, Kick Off 19 April 2025

“Ini masalah serius. Masa klub profesional tidak punya lapangan sendiri? Ini tidak bagus untuk pembinaan,” tegasnya.

Lebih jauh, dirinya mengkritik kebijakan yang membuka ruang besar bagi pemain asing serta program naturalisasi. Ia menilai kondisi tersebut membuat pemain lokal kehilangan kesempatan berkembang, khususnya di posisi krusial seperti penyerang.

“Akibatnya tim nasional kita seperti mandul. Kita tidak punya striker. Pemain lokal hanya bermain aman, sekadar passing, tidak ada yang berani melewati tiga atau empat pemain lawan,” kata dia.

Menurutnya masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Minimnya kompetisi usia muda turut berdampak pada kualitas pelatih. Ia menilai banyak pelatih saat ini tidak memiliki pengalaman kompetitif yang cukup saat masih menjadi pemain muda.

Ia bahkan menyinggung kondisi pelatih timnas kelompok usia, termasuk Nova Arianto, yang dinilai tidak mendapatkan jam terbang kompetisi panjang di masa junior.

“Pelatih yang baik harus punya pengalaman kompetisi sejak muda. Kalau itu tidak ada, sulit untuk ditransfer ke pemain,” ujarnya.

Baca Juga :   Daftar Pendapatan Hadiah Liga Champions 2025/2026: PSG Teratas

Dalam konteks itulah, kehadiran Liga Jakarta 2026 yang akan bergulir pada April mendatang dinilai Berti sebagai langkah positif. Ia sendiri akan terlibat langsung sebagai bagian dari tim talent scouting kompetisi tersebut.

Menurutnya, Liga Jakarta bisa menjadi panggung penting bagi pemain-pemain muda yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

“Ini ide yang bagus. Pemain-pemain yang selama ini tidak terlihat bisa menunjukkan kemampuan mereka. Kalau menonjol, tentu ada peluang untuk masuk tim nasional,” ucapnya.

Sebagai talent scout, Berti menegaskan bahwa aspek yang akan menjadi perhatian utama adalah perkembangan pemain dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Ia juga menekankan pentingnya peran pelatih dalam mengembangkan potensi individu pemain.

“Harus ada progres. Misalnya di pertandingan pertama dia punya kekurangan, di pertandingan berikutnya sudah ada perbaikan. Itu yang kita lihat,” jelasnya.

Dengan format kompetisi yang memungkinkan setiap tim memainkan hingga 20 pertandingan, Berti optimistis kualitas pemain akan lebih terukur. Ia menyebut aspek teknik dasar seperti kontrol bola, akurasi passing, hingga kemampuan membaca permainan akan terlihat jelas.

Baca Juga :   Erick Thohir Apresiasi FIFA, Indonesia Siap Tuan Rumah Lagi

“Kalau jumlah pertandingan banyak, kualitas pemain akan kelihatan dengan sendirinya. Selama ini hal-hal mendasar itu justru masih kurang, bahkan di level tim nasional,” katanya.

Berti menegaskan bahwa pembenahan sepak bola Indonesia harus dimulai dari fondasi, yakni kompetisi usia muda yang berkelanjutan. Tanpa itu, ia menilai sulit berharap munculnya pemain berkualitas yang mampu bersaing di level internasional.

“Selama ini banyak yang hanya berharap anaknya jadi pemain, tapi tidak didukung proses yang benar. Akhirnya kemampuan pemain juga terbatas,” pungkasnya.

Dengan pengalaman panjangnya sebagai mantan pemain nasional, Berti kini menaruh harapan besar pada Liga Jakarta 2026 sebagai titik awal kebangkitan pembinaan sepak bola Indonesia. Ia berharap kompetisi tersebut mampu melahirkan bibit-bibit unggul yang kelak memperkuat tim nasional.

 

Related articles

Share article

Latest articles